Entah mengapa pada saat ini rasanya, aku
seperti bisa melihat mimpiku tanpa terlelap. Aku bisa melihat jelas jika di
depan mataku, ada sebuah gundukan bukit kecil yang ditengahnya ada seorang
gadis muda berusia sekitar lima atau enam tahun. Di sebelah kiri sudut
pandanganku ada kumpulan asap mengepul dan mengeluarkan bau yang tidak sedap,
sehingga aku tidak terlalu fokus pada gundukan yang ada di depan mataku. Gadis
muda tersebut duduk dengan gelisah di sebuah kursi kayu berwarna coklat dengan
ukiran yang aneh mengelilingi kursi tersebut.
Ku melangkah perlahan maju untuk melihat
dengan jelas, ternyata gadis muda itu tidak sendirian. Dia dikelilingi oleh
orang-orang dewasa yang berbaris dan membentuk lingkaran di sekitarnya. Gadis
muda tersebut nampak ketakutan pada kerumunan barisan orang yang melingkarinya
itu. Seolah-olah sedang mengobservasi dan hendak menghukum gadis itu. Aku
merasa kasihan pada gadis muda tersebut dan ingin sekali menolongnya. Karena
sewaktu barisan lingkaran orang-orang itu bergerak maju ke arahnya, semakin
keras dan menyedihkan suara gadis itu dalam menunjukkan ketakutannya. Tanpa
pikir panjang lagi aku bergerak lari untuk membantu dan menolong gadis itu. Berlari
menaiki bukit kecil itu, menerobos barisan lingkaran yang mengelilinya dan
melihat keadaan gadis itu. Setelah hal itu semua aku lakukan. Aku berhasil
sampai di dekat tempat gadis itu berada. Aku merapikan beberapa helai rambut
yang menghalagi pandanganku.
Lalu mulai fokus ke gadis itu. Namun apa
yang ku lihat sangat jauh dari harapanku dan mengerikan. Karena gadis yang aku
lihat ketakutan dari kejauhan itu ternyata tidak memiliki wajah. Ukiran yang
ada di kursi kayunya juga ternyata terbuat dari isi perut manusia. Aku sangat
ketakutan melihat hal itu. Aku berjalan mundur menjauhi gadis itu yang
kepalanya mulai diposisikan ke arahku. Kaki ku seperti tersangkut sesuatu
ketika aku berjalan mundur, sehingga aku terjatuh di tanah bukit kecil itu.
Tapi, setelah aku raba dan mengenggam tanah penyebab aku terjatuh. Aku
merasakan ada yang aneh pula dari gundukan bukit kecil ini.
Ternyata aku tersangkut
tangan manusia. Aku melihat ke arah kiri dan kanan untuk melihat apakah
sebenarnya bukit ini. Bukit ini tidak terbuat dari tanah, bebatuan dan
rerumputan. Aku melihat wajah Ayah dan Ibuku bahkan teman-teman yang aku kenal
dengan keadaan terbaring dan penuh darah di sekujur tubuhnya. Aku meluruskan
pandanganku, ternyata bukit ini terbuat dari gundukan mayat orang-orang yang ku
kenal yang mengering dan tidak bernyawa. Gadis itu masih memposisikan wajahnya
ke arahku dan samar-samar aku mendengar suaranya yang melengking dan terkesan
penuh dengan ke putus-asaan, berkata.
“Apakah
kau yang berikutnya?”
*******
Akhirnya
aku memutuskan untuk tidak tidur di malam ini.
Di
malam Jum’at.
Menjelang
pergantian Tahun 2012.
*Yaa Allah lapangkanlah ummat Islam
dari himpitan kesedihan dan kesusahan*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar