Taman Mimpiku
Kamis, 12 Januari 2012
KEJUTAN BESAR
Sambil menunggu Veryn dan Tuan Shetra yang ingin mengambil beberapa keperluan untuk Risa, aku duduk di kursi yang ada di koridor bangsal Arjuna. Suasana bangsal ini cukup ramai, tidak seperti biasanya yang sepi. Tuan Shetra bilang sii, karena ada salah satu suster yang ulang tahun hari ini, yaitu suster Arin, dan beberapa temannya ada yang ingin memberinya kejutan. Para suster itu sudah konfirmasi ke atasan dan para petugas keamanan yang ada di rumah sakit ini, agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Dengar-dengar mereka ingin memberikan kejutan besar, wajarlah kalau sampai konfirmasi ke atasan dan pihak keamanan. Aku duduk di bangku yang memang sudah disediakan pihak rumah sakit ini, aku enggan menambahkan kata jiwa di belakang rumah sakit ini. Terkesan aneh dan sadis untuk Risa.
Aku duduk di depan ruangan Chakra yang berada di persimpangan atau tepatnya si di pertigaan koridor. Jika aku menengok ke kiri, aku akan langsung melihat pertigaan koridor itu dan ruangan Astina. Lalu, ruangan paling pojok yang berada di jalan buntu koridor adalah ruangan Hrudadali tempat penyimpanan alat-alat kedokteran.
Kira-kira Veryn dan Tuan Shetra lama apa tidak yaa?? Soalnya bosan juga nihh, klo cuma nunggu seperti ini. Di sini bau obatnya sangat menyengat di tambah lagi, aku samar-samar mendengar, seperti ada suara di dalam ruangan Chakra.
Pemandangannya juga sangat membosankan. Taman yang ada di depanku ini, kurang terawat. Bunga-bunga yang tidak terurus, tanaman menjalar yang kusut, daun-daun kering yang tidak dibersihkan secara berkala. Ditambah lagi koridor ini juga kurang sekali penerangan cahanya. Padahal baru jam lima sore, tapi sudah cukup gelap di dalam koridor ini.
Para suster-suster ini berlalu lalang untuk mempersiapkan kejutan kali yaa, karena keliatannya sibuk sekali daritadi. Menyiapkan kejutan di sore hari, setelah pekerjaan selesai yaa. Kreatif dan saling peduli dengan teman yaa mereka. Dengan baju dan peralatan yang digunakan. Aku sudah bisa menebak kalau mereka ingin mengerjai suster Arin dengan berpura-pura menjadi hantu suster ngesot.
Haaffhh..trik dan kejutan lama yang membosankan, apanya yang kejutan besar kalau kayak begini. Suster Arin memang penakut, tapi apa bisa dia dikerjai dengan trik lama seperti ini? Dia kan cerdas.
Mereka ada di ruangan Astina, tempat berkumpulnya para suster. Sedangkan suster Arin ada di ruangan Hrudadali. Lagi membersihkan ruangan karena dipinta oleh Ibu Ursa selaku atasannya, yang tanpa sadar padahal dia cuma dikerjai. Atasan yang baik, beliau tidak mau dipanggil dengan sebutan Dokter. Beliau lebih senang dipanggil dengan sebutan Ibu.
Hmm..aku kira kejutan besar yang seru. Ternyata cuma seperti itu, nambah membosankan deh. Padahal aku sangat mengharapkan kejutan besar saat ini.
Aku menopangkan dagu di kedua tangannku yang bertumpu pada teras pembatas koridor dan taman, sambil memetik beberapa daun pohon jeruk nipis yang berada tepat di depanku. Hitung-hitung untuk mengurangi kebosananku.
Srekk..srekk..
Suara apa itu?? Aku menengok ke sisi sebelah kiri. Ohh..ternyata acara kejutannya sudah di mulai. Aku berdiri untuk melihanya lebih jelas. Pintar sekali make-up ala hantunya. Wajahnya benar-benar menjadi sulit dikenali.
Riasan mata yang menghitam, seluruh wajah seperti bara api yang menyala. Lalu, wahh memang benar-benar hebat para suster itu. Kakinya pun dirias seakan benar-benar lumpuh, dengan darah dan luka besar yang terkoyak sehingga tulangnya kelihatan.
Perlahan-lahan mendekati pintu ruangan Hrudadali, dan aku ingin sekali melihat reaksi suster Arin begitu melihat wujud hantu itu. He..he..he..sepertinya cukup menyenangkan.
Dia sudah ada di depan pintu, suster yang akan mengagetkan suster Arin sudah ada di depan pintu, dengan riasan hantu ala suster ngesot.
Aku mengedepankan tas kecil yang awalnya berada di samping, lalu tanpa sengaja aku menjatuhkan pulpen. “Ichh ribet, ga’ tau orang mau senang-senang apa?” Gerutuku sambil mengambil pulpenku yang terjatuh.
Setelah mengambil pulpen itu dari lantai, aku menaruhnya kembali di tempatnya yang tepat dalam tasku, supaya tidak jatuh lagi.
Aku berdiri lagi. Kemudian melihat ke depan ruangan Hrudadali. Ihh, suster yang ngerjain tadi sudah ga’ ada? Masa masuk pintunya cepat banget? Aturan mahh ketuk dulu pintunya, biar dibuka sama suster Arin. Kemudian dia kaget melihat sosok suster ngesot itu, lalu surpriiise. Bukankah begitu lebih baik. Pikirku dalam hati melihat rencana para suster yang kurang baik menurutku.
Jadi , sekarang tinggal menunggu teriakan suster Arin dari dalam ruangan dan para suster berhamburan datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
.......
Waktu hening aku rasakan selama satu menit. Lama sekali? Kok, ga’ teriak-teriak?
Emm..aku berpikir sejenak. Lalu ada baiknya ku lihat saja ke dalam ruangan itu. Mengapa suster Arin ga’ teriak, ada kemungkinan dia pingsan begitu melihat sosok hantu itu.
“Baiklah coba aku lihat saja apa yang terjadi di dalam” ucapku dengan pelan.
Namun ketika tepat di persimpangan, aku melihat ada sosok putih lagi yang keluar. Sama seperti yang tadi, kali ini hantunya juga suster ngesot. Tapi, make-up hantunya tidak begitu bagus seperti yang pertama tadi. Kali ini terkesan asal-asalan, malah aku masih bisa mengenalinya.
Dia suster Sari yang berpura-pura jadi suster ngesot. Aku langsung memberhentikan langkahku, kemudian menatapnya dengan keheranan. Mengapa dua-duanya harus hantu suster ngesot?
Dia menoleh ke arahku, dia tahu jika aku perhatikan. Dia menatapku dan memberiku isyarat agar tetap tenang, dengan menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke bibir. Tiba-tiba dari dalam ruangan Astina yang ada di sebelah kirinku, keluar suster Gerson menyambar tanganku dan berbisik. “Sstt tenang saja. Jangan takut itu suster Sari.”
“Ii..iiyya.” jawabku dengan gugup dan heran.
“
Tidak usah gugup dan ketakutan begitu. Nanti kita lihat reaksinya Arin..he..he..he..pasti menyenagkan.” Kata suster Gerson dengan nada senang. Sambil melihat gerakan suster Sari yang lucu di bawah lantai. Suster yang lain pun hanya bisa tertawa kecil dari dalam ruangan mengintip di sela-sela jendela. Melihat gerakan-gerakan aneh yang dibuat suster Sari, ketika hendak mencapai pintu ruangan Hrudadali.
“Kenapa harus dua?” bisikku pada suster Gerson.
Suster Gerson terlalu asik melihat tingkah suster Sari yang lucu di bawah lantai, sampai tidak menyadari pertanyaanku.
“Suster?” Ucapku dengan suara yang lebih keras.
“Hmm..iyya ada apa?” sahutya.
Akhirnya dia mendengarkanku. “Kenapa hantunya mesti ada dua? Terus sama lagi. Sama-sama suster ngesot?” tanyaku pada suster Gerson.
“Dua? Dua apanya?” suster Gerson balik bertanya padaku.
“Itu loo yang jadi suster ngesotnya. Kenapa mesti ada dua?” jawabku dengan ku pertegas di setiap ucapannya.
“Dua? Orang cuma satu kok. Mengkhayal kali kamu.” Jawab suster Gerson dengan agak kebingungan mendengar ucapanku.
“Enggak suster, saya ga’ mengkhayal sebelum suster Sari. Tadi ada juga yang jadi suster ngesot.” Ucapku dengan nada panik.
“Siapa??” Tanya suster Gerson dengan wajah dan tatapan yang dingin.
“Saya juga ga’tahu.” Jawabku.
“Lalu di mana sekarang suster yang kamu lihat tadi?” Tanya suster Gerson lebih dalam padaku, yang sudah terlihat mulai hilang kendali.
“Sepertinya ada di dalam ruang Hrudadali bersama suster Arin.” Jawabku.
“Masuknya bagaimana?” Tanya suster Gerson lagi padaku.
“Saya kurang tahu. Awalnya dia sudah sampai di depan pintu. Pulpen saya jatuh, saya berusaha mengambilnya. Kemudian setelah saya mengambil pulpen saya yang jatuh, saya melihat lagi ke depan pintu ruangan itu. Ternyata suster itu sudah ga’ ada.” Ceritaku pada suster Gerson yang semakin gugup karena sosok suster yang pertama tadi.
Suster Gerson hanya terdiam mendengar ceritaku tadi, yang terkesan mengaran-nagarang cerita. “Emm..coba deh kamu perhatiin dengan benar.” Ucapnya sambil menunjuk ke arah pintu dan suster Sari yang saat itu sedang mengetuk-ngetuk pintu ruangan Hrudadali. Tok,tok,tok.
Trak, trak, jtak. Terdengar sangat jelas suara itu, suara yang cukup familier bagiku. Suara itu suara kunci yang di buka.
“Kamu tahu suara itu?” Tanya suster Gerson.
“Ii..ii..iyya. Itu suara kunci.” Jawabku dengan nada suara yang berubah. Dari gugup menjadi takut.
“Nahh itu kamu tahu. Ruangan itu dikunci dari dalam oleh suster Arin, karena dia ga’ mau ada yang mengganggu dia waktu merapihkan peralatan yang ada di dalam ruangan itu. Karena Bu Ursa juga berpesan begitu padanya, agar dia mengunci pintu itu dari dalam supaya ga’ diganggu sama suster lain. Yaaa, walaupun itu ternyata cuma akal-akalan kami untuk ngerjainnya.
Jadi, yang kamu lihat tadi siapa yang masuk ke dalam ruangan yang dikunci dari dalam itu.” Tanyanya padaku.
“Saya ga’ tahu suster.” Jawabku dengan ketakutan dan tiba-tiba.
Aaaaaaaaagghhh.
Di tengah diamnya diriku karena hal yang baru ku alami tadi, suster Arin berteriak histeris begitu melihat suster Sari yang berpura-pura jadi hantu suster ngesot.
Lalu, di saat dia hendak menjauh dan menutup pintu kembali. Para suster yang ada di dalam ruangan Astina keluar untuk mengucapkan kata surprise dan menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.
Namun, bagiku kejutan terbesar adalah yang baru saja ku alami. Siapakah suster yang aku lihat tadi? Suster dengan wajah merah membara seperti bara api dan kaki dengan luka terkoyak.
Entah mengapa tiba-tiba aku melemparkan pandanganku pada pohon beringin besar yang berada cukup jauh dari ruangan Hrudadali. Aku melihat sepertinya ada seseorang yang sedang duduk dengan kaki menyamping di bawah pohon itu menatap ke arahku.
Aku memfokuskan pandanganku ke arah orang yang menatapku itu, samar-samar ku lihat orang itu berpakaian ala suster. Sepertinya itu suster yang aku lihat tadi. Iyya potongan rambutnya sama, tapi sedang apa di sana? Bukannya lebih baik berkumpul bersama disini.
Aku hendak mengadukannya pada suster Gerson. Hendak bilang kalau yang aku lihat tadi kemungkinan suster yang ada di bawah pohon itu.
Namun, saat aku menoleh ke arah kiriku suster Gerson tidak ada. Ke mana dia??
“Suster..suster..suster Gerson??”
Aku memanggil-manggilnya sambil membalik-balikan badanku untuk mencarinya di semua posisi. Kemudian aku berpikir, dia mungkin sudah berbaur dengan teman-temannya yang ada di depan pintu ruangan Hrudadali sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk suster Arin.
Tapi, aku perhatikan dengan seksama dia memang ga’ ada diantara kerumunan itu. Ke mana dia? Aku mulai berpikiran yang bukan-bukan.
Tiba-tiba ada yang menepuk bahu kananku. Aku pun tersentak kaget. “Aahh.”
“Ei, santai gadis.” Ucap orang yang menepuk bahuku dari sebelah kanan itu, dan ternyata itu suster Gerson.
“Suster, syukurlah.” Aku bernafas lega, setelah melihat kembali suster Gerson. “Suster ke mana tadi, kok tiba-tiba menghilang.” Tanyaku padanya.
“Tadi??? Menghilang?? Maksudnya apa?? Orang dari tadi saya ada di ruangan Chakra membuat laporan.” Jawabnya dengan nada heran melihat expresiku yang seperti orang ketakutan.
“Haahh?” desahku. “Itu beneran suster?” tanyaku padanya.
“Iyya untuk apa saya bohong, saya ada di ruangan Chakra dengan Bu Ursa. Kalau ga’ percaya tanya saja sama beliau!” Perlahan Bu Ursa pun keluar dari ruangan Chakra untuk ikut membaur dengan para suster. “Kamu ngaco ahh. Mungkin kamu kecapean karena observasi hari ini. Jadi khayal yang bukan-bukan.” Ucapnya padaku.
“Ada apa Gerson?” Tanya Bu Ursa dengan melihat kami berdua.
“Ti..tidak ada apa-apa kok Bu.” Jawabku dengan ketakutan dan kebingungan yang ditahan aku menjawab seperti tidak terjadi apa-apa.
Aku melihat ke pohon beringin besar itu, orang yang menatapku di sana juga sudah tidak ada. Hilang entah kemana. Aku menahan rasa takut ku lagi, seolah-olah tenggorokanku seperti terbakar karena teriakanku yang tertahan di tengahnya.
Jika suster itu bukan termasuk dari suster yang berjaga di shift ini, lalu siapa? Dan jika suster Gerson benar-benar sedang membuat laporan bersama Bu Ursa di ruang Chakra, berarti yang tadi berbicara denganku itu siapa??
Tubuhku merinding memikirkan hal itu.
Aku menundukkan kepala menggenggam erat tali tasku dan mengucapkan kata. “Sudah sore, sepertinya saya memang butuh istirahat. Saya permisi pulang yaa Bu Ursa dan suster Gerson.” Keduanya menatapku dengan keheranan.
“Iyya hati-hati yaa” jawab Bu Ursa.
Lalu suster Gerson menarik tangan kiri Bu Ursa ke arah para suster yang sedang merayakan ulang tahun suster Arin. Agar segera berbaur dengan mereka.
Aku sempat menoleh ke belakang, melihat mereka bersenang-senang. Sementara aku ketakutan setengah mati karena baru saja mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan bagiku.
Aku berjalan merunduk sepanjang koridor bangsal Arjuna itu, berharap secepatnya keluar dari koridor yang gelap ini.
Aku melihat jam tanganku. Sudah pukul 18:00. Di saat aku masih merunduk untuk melihat jam tanganku. Tiba-tiba aku melihat bayangan hitam panjang di bawah penyinaran lampu yang remang-remang di koridor ini.
Aku kaget, tersentak respon mundur ke belakang dan seakan ingin menjerit. Namun setelah ku tegakkan badan dan melihat dengan jelas, ternyata itu Veryn dan Tuan Shetra.
“Ada apa Dee?” Kok kayak ketakutan gitu?” Tanya Veryn.
Aku melihat mereka berdua dengan pandangan tajam. Lalu, untuk sedikit menguji asumsiku kalau mereka benar sungguhan. Aku mencubit pipi Veryn yang putih dan kurus dengan keras menggunakan tangan kiriku.
“Auww.” Teriak Veryn.
Kemudian aku pukul perut Tuan Shetra, namun dengan cekatan dia menangkap tinjuku. “Uups.” Ucapnya saat menangkap tangan kananku yang hendak memukulnya.
“Kamu gila yaa?” Keluh Veryn dengan nada kesal padaku.
“Sepertinya kau baru saja mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan yaa?” Tanya Tuan Shetra.
“Kenapa, Dee?” Tanya Veryn lebih lanjut.
Dengan nada gugup aku menjawab. “Emm..engga’ apa-apa. A..aku cuma mau menguji asumsiku. Ternyata gerakan respon pria, emm..memang lebih baik dibanding wanita.” Alasanku pada mereka.
Veryn kebingungan menatapku, sedangkan Tuan Shetra hanya tertawa kecil mendengar alasanku yang sedikit masuk akal tadi. Karena sepertinya dia tahu kalau aku baru mengalami peristiwa buruk, itu sudah dia buktikan dari ucapannya tadi.
“Kalian..sudah selesai mengurusi keperluan untuk..Risa?” tanyaku, masih dengan nada gugup dan ketakutan.
“Sudah. Semuanya sudah beres.” Kata Tuan Shetra dengan singkat. Sedangkan Veryn hanya terdiam menatapku yang gugup dan dibasahi keringat. Tentunya sebagai mahasiswi Psikologi dia juga pasti tahu tentang reaksiku ini, meskipun sedikit.
“Kalau begitu. Bisa kita pulang sekarang?” tanyaku.
“Tentu.” Jawab Tuan Shetra dengan expresi tersenyum mengembang di wajahnya. Kontras sekali dengan expresiku ini.
Kami pun kemudian segera bergegas pergi dari rumah sakit ini.
Di dalam perjalanan. Di mobil aku duduk di kursi depan dengan Tuan Shetra, sedangkan Veryn duduk di belakang sendirian. Aku berusaha keras melupakan kejadian tadi, namun rasanya sulit sekali. Aku melihat kaca yang ada dia atas antara kursi penyetir dan kursi penumpang. Aku melihat Veryn memperhatikanku dari posisi kiri di belakang Tuan Shetra, dengan tatapan kebingungan.
Dia saja yang cuma melihat reaksiku saja bingung. Apalagi aku yang mengalaminya sendiri.
Huuuffhh..berharap dapat kejutan besar, dan memang benar-benar dapat kejutan besar. Tapi, kejutan besar yang mengerikan. Fuhhff..aku meniup ke atas, meniup beberapa helai rambut yang menutupi keningku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar