Taman Mimpiku
Jumat, 30 Desember 2011
GADIS DI ATAS BUKIT DAN MALAM MENJELANG PERGANTIAN TAHUN...
Entah mengapa pada saat ini rasanya, aku seperti bisa melihat mimpiku tanpa terlelap.
Aku bisa melihat jelas jika di depan mataku, ada sebuah gundukan bukit kecil yang ditengahnya ada seorang gadis muda berusia sekitar seumuranku.
Di sebelah kiri sudut pandanganku ada kumpulan asap mengepul dan mengeluarkan bau yang tidak sedap, sehingga aku tidak terlalu fokus pada gundukan yang ada di depan mataku.
Gadis muda tersebut duduk dengan gelisah di sebuah kursi kayu berwarna coklat dengan ukiran yang aneh mengelilingi kursi tersebut.
Ku melangkah perlahan maju untuk melihat dengan jelas, ternyata gadis muda itu tidak sendirian. Dia dikelilingi oleh orang-orang dewasa yang berbaris dan membentuk lingkaran di sekitarnya.
Gadis muda tersebut nampak ketakutan pada kerumunan barisan orang yang melingkarinya itu. Seolah-olah sedang mengobservasi dan hendak menghukum gadis itu. Aku merasa kasihan pada gadis muda tersebut dan ingin sekali menolongnya.
Karena sewaktu barisan lingkaran orang-orang itu bergerak maju ke arahnya, semakin keras dan menyedihkan suara gadis itu dalam menunjukkan ketakutannya.
Tanpa pikir panjang lagi aku bergerak lari untuk membantu dan menolong gadis itu.
Berlari menaiki bukit kecil itu, menerobos barisan lingkaran yang mengelilinya dan melihat keadaan gadis itu.
Setelah hal itu semua aku lakukan.
Aku berhasil sampai di dekat tempat gadis itu berada. Aku merapikan beberapa helai rambut yang menghalagi pandanganku.
Lalu mulai fokus ke gadis itu. Namun apa yang ku lihat sangat jauh dari harapanku dan mengerikan.
Karena gadis yang aku lihat ketakutan dari kejauhan itu ternyata tidak memiliki wajah. Ukiran yang ada di kursi kayunya juga ternyata terbuat dari isi perut manusia.
Aku sangat ketakutan melihat hal itu.
Aku berjalan mundur menjauhi gadis itu yang kepalanya mulai diposisikan ke arahku. Kaki ku seperti tersangkut sesuatu ketika aku berjalan mundur itu, sehingga aku terjatuh di tanah bukit kecil itu.
Tapi, setelah aku raba dan mengenggam tanah penyebab aku terjatuh. Aku merasakan ada yang aneh pula dari gundukan bukit kecil ini.
Ternyata aku tersangkut tangan manusia. Aku melihat ke arah kiri dan kanan untuk melihat apakah sebenarnya bukit ini.
Bukit ini tidak terbuat dari tanah, bebatuan dan rerumputan.
Aku melihat wajah Ayah dan Ibuku bahkan Veryn, Bu Nilam para dosen dan teman-teman kuliahku dengan keadaan terbaring dan penuh darah di sekujur tubuhnya.
Aku meluruskan pandanganku, ternyata bukit ini terbuat dari gundukan mayat orang-orang yang ku kenal yang mengering dan tidak bernyawa.
Gadis itu masih memposisikan wajahnya ke arahku dan samar-samar aku mendengar suaranya yang melengking dan terkesan penuh dengan ke putus-asaan, berkata.
“Apakah kau yang berikutnya?”
*****
Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak tidur di malam ini.
Di malam Jum’at.
Menjelang pergantian Tahun.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar