Taman Mimpiku

Taman Mimpiku

Rabu, 09 Desember 2015

Gadis Di Atas Bukit dan Malam Menjelang Pergantian Tahun


Entah mengapa pada saat ini rasanya, aku seperti bisa melihat mimpiku tanpa terlelap. Aku bisa melihat jelas jika di depan mataku, ada sebuah gundukan bukit kecil yang ditengahnya ada seorang gadis muda berusia sekitar lima atau enam tahun. Di sebelah kiri sudut pandanganku ada kumpulan asap mengepul dan mengeluarkan bau yang tidak sedap, sehingga aku tidak terlalu fokus pada gundukan yang ada di depan mataku. Gadis muda tersebut duduk dengan gelisah di sebuah kursi kayu berwarna coklat dengan ukiran yang aneh mengelilingi kursi tersebut.
                                                 
Ku melangkah perlahan maju untuk melihat dengan jelas, ternyata gadis muda itu tidak sendirian. Dia dikelilingi oleh orang-orang dewasa yang berbaris dan membentuk lingkaran di sekitarnya. Gadis muda tersebut nampak ketakutan pada kerumunan barisan orang yang melingkarinya itu. Seolah-olah sedang mengobservasi dan hendak menghukum gadis itu. Aku merasa kasihan pada gadis muda tersebut dan ingin sekali menolongnya. Karena sewaktu barisan lingkaran orang-orang itu bergerak maju ke arahnya, semakin keras dan menyedihkan suara gadis itu dalam menunjukkan ketakutannya. Tanpa pikir panjang lagi aku bergerak lari untuk membantu dan menolong gadis itu. Berlari menaiki bukit kecil itu, menerobos barisan lingkaran yang mengelilinya dan melihat keadaan gadis itu. Setelah hal itu semua aku lakukan. Aku berhasil sampai di dekat tempat gadis itu berada. Aku merapikan beberapa helai rambut yang menghalagi pandanganku.

Lalu mulai fokus ke gadis itu. Namun apa yang ku lihat sangat jauh dari harapanku dan mengerikan. Karena gadis yang aku lihat ketakutan dari kejauhan itu ternyata tidak memiliki wajah. Ukiran yang ada di kursi kayunya juga ternyata terbuat dari isi perut manusia. Aku sangat ketakutan melihat hal itu. Aku berjalan mundur menjauhi gadis itu yang kepalanya mulai diposisikan ke arahku. Kaki ku seperti tersangkut sesuatu ketika aku berjalan mundur, sehingga aku terjatuh di tanah bukit kecil itu. Tapi, setelah aku raba dan mengenggam tanah penyebab aku terjatuh. Aku merasakan ada yang aneh pula dari gundukan bukit kecil ini.

Ternyata aku tersangkut tangan manusia. Aku melihat ke arah kiri dan kanan untuk melihat apakah sebenarnya bukit ini. Bukit ini tidak terbuat dari tanah, bebatuan dan rerumputan. Aku melihat wajah Ayah dan Ibuku bahkan teman-teman yang aku kenal dengan keadaan terbaring dan penuh darah di sekujur tubuhnya. Aku meluruskan pandanganku, ternyata bukit ini terbuat dari gundukan mayat orang-orang yang ku kenal yang mengering dan tidak bernyawa. Gadis itu masih memposisikan wajahnya ke arahku dan samar-samar aku mendengar suaranya yang melengking dan terkesan penuh dengan ke putus-asaan, berkata.
           
“Apakah kau yang berikutnya?”

*******

            Akhirnya aku memutuskan untuk tidak tidur di malam ini.
            Di malam Jum’at.
            Menjelang pergantian Tahun 2012.



*Yaa Allah lapangkanlah ummat Islam dari himpitan kesedihan dan kesusahan*
           

Rabu, 12 November 2014

Dian Astrid Helena


Tersenyum dan Bahagialah Hari Ini


Pagi-pagi banget kami sudah disibukkan dengan sakit perutnya Tegar yang kata Astrid udah hampir tiga kali bolak-balik kamar mandi tapi gak ada yang dikeluarin sama itu anak. Kayaknya kualat deh tuhh anak. Atau mungkin dia keluarin dari tempat yang berbeda? Ahh ga’ tau juga lahh.

Setelah gue selesai mandi, di kamar mandi yang satunya lagi, dan bersiap berangkat ke kantor. Gue sempatkan diri buat liat kondisi Tegar di kamarnya, yang di sana sudah ada Astrid yang dengan penuh perhatian dan kasih sayang merawatnya.

Kak Aby berangkat aja duluan. Aku izin dateng siang yaa Kak, tolong kasih tau ke Ibu Inna.”

       “Iyaa...nanti Kakak kasih tau.”

Dan jangan lupa juga. Hari ini ada orang GA baru atas nama Muhammad Adan dengan NIK 41278.”

Iyya...Kakak inget, orang referensi dari Ibu Inna sendiri kan, yang bahkan kita berdua pun belum sama sekali liat orangnya, usianya seumuran Astrid. Cuma beda dua tahun lebih muda laah dari Kakak.”

.....................senyap.

Kok dia diem aja kayak ga’ nanggepin. Tiba-tiba gue nyium bau sesuatu, kayak kabel kebakar.

Maaf Kak, aku udah gak tahan soalnya.”

Ini adalah salah satu contoh kebiasaan buruk dari bidadari ini. Walaupun cantik dan terlihat sopan, tapi dia gak ragu untuk mengeluarkan gas emisinya itu di depan umum, bahkan di tempat makan sekalipun. Dia sering bilang kalo dia sudah berusaha buat nahan, tapi ada satu bagian di tubuhnya yang terkadang berkhianat dan akhirnya tetap mengeluarkan gas tersebut.

Alesan yang cukup masuk akal, tapi gak bisa diterima akal menurut gue. Huuffhh.

Dan akhirnya gue pun berangkat ke kantor tanpa sarapan, karena gak tau kenapa otak gue masih aja ingetin gue sama bau kentutnya Astrid. Asli, itu kebiasaan dia yang buruk banget dan ga’ mengenal tempat. Gara-gara kebiasaan kentutnya itu, dia juga sampe gagal ikut audisi girlband. Padahal dia biasa dance dan suaranya juga bagus. Tapi yaa mau gimana lagi, mungkin emang belum rejekinya kali.

Sesampainya di kantor gue mulai kembali aktivitas gue. Tugas yang pertama adalah kenalin karyawan GA yang baru itu ke seluruh lingkungan kantor. Tapi dengar kabar dari Ibu Inna orang baru itu enggak bisa dateng pagi, dia bisa dateng setelah makan siang nanti, karena dia juga harus meerawat Adiknya dulu yang sakit, bisa sama gitu yaa sama Astrid. Jadi, gue abisin setengah hari ini dengan meeting dan sortir kandidat untuk accounting staff.

Kira-kira kayak gimana yaa tuhh orang baru itu. Apa orangnya mirip Joker di film Batman kayak karyawan yang sebelumnya atau ada suasana baru di ruang HRGA nanti? Pastinya gue gak sabar pengen liat itu orang.

Setengah hari pun berlalu.

Gue makan sendiri di ruangan, karena males keluar, jadinya gue nitip soto sama office boy. Gak enak juga makan sendiri, karena gak biasanya kayak gini, biasanya gue selalu ditemenin sama Astrid, tapi ini pesenan soto juga belum dateng-dateng. Itu office boy juga lumayan ngocol. Waktu ada tamu Jepang, biar lantai toiletnya gak licin, air pellannya dia campur sabun sirih biar keset. Alhasil karyawan cowok berasa pada mau keramas pas nyium bau itu lantai.

Baru beberapa jam enggak bersamanya, perasaan gue udah gak nentu banget dan rindu sama dia. Sms gue juga enggak dibales, apa mungkin dia lagi jalan. Masih segar dalam hati gue mikirin dia, tibat-tiba orangnya udah dateng. Dia dateng dengan wajah lesu dan suntuk hingga gue rasa buat senyum dia juga gak mampu.

Dia cuma meliat dengan wajah lesu dan cemberut ke arah gue. Pasti akibat kejadian semalam dan ninggalin Adiknya yang sakit di rumah. Pikirannya terbebani oleh dua hal itu di hari ini.

Gimana keadaan Tegar?”

       “Udah mendingan, dia aku titipin di rumah sodara. Aku mau izin gak masuk tapi kerjaan lagi banyak-banyaknya.”

Mau Kakak kirimin puisi atau sms lucu?” Tanya gue lebih lanjut padanya.

       Dia anggukin kepala pertanda mau.

Yaa udah nanti Kakak buatin. Sekarang Astrid udah makan apa belum?”

Dia gelengin kepalanya dengan wajah sedih.

Kakak temenin makan diluar yuuk.” Kayaknya dia memang kelaparan. Padahal baru aja sampe tapi udah mau diajak keluar lagi.

Kira-kira puisi apa yaa yang cocok buat dia di saat sedih kayak sekarang. Puisi yang udah gue buatin untuknya udah cukup banyak. Karena kebiasaan gue di waktu dia sedih adalah buatin dia puisi atau cerita-cerita lucu supaya dia bisa senyum dan semangat lagi dalam menghadapi hidup.

Kehidupan indah yang dia miliki, tapi dia enggak begitu sadar betapa indah hidupnya itu. Andai dia bisa liat dari sudut pandang oranglain, pasti dia akan liat betapa banyaknya yang dia miliki dan capai dibandingin oranglain.

Gue bisa tahan ketika dia bersama dan mencintai pria lain, namun gue gak bisa tahan ketika harus ngeliat dia sedih kayak gini. Saat menuruni tangga, enggak ada hentinya gue berpikir puisi apa yang cocok, yang terkadang di puisi itu gue ikut cantumin juga perasaan gue padanya. Akhirnya gue dapetin kata-kata yang cocok buat gue jadiin puisi untuk dia.


Tidak ada tekanan dalam hati...
Karena aku telah kalah oleh hatiku...
Sekarang aku tahu apa itu cinta...
Menyakitkan dan menyedihkan hati...
Namun aku tetap tidak mendengarkan...
Dan tidak mengindahkan siapapun...
Hati hanya mengakui cerita dalam pikirannya...
Aku selalu mencintaimu, mencintaimu dan mencintaimu...
Hati dan pikiranku hanyamu...
Walau hingga seluruh Dunia terlihat palsu bagiku...
Aku akan tetap selalu mencintaimu, mencintaimu dan mencintaimu...
Bahkan setelah itu...
Aku akan tetap mencintaimu...
Gue kirimin puisi itu lewat sms biar dia baca. Enggak ada tema atau batasan tertentu kalo gue kirimin puisi ke dia, asalkan kata-katanya bagus dan menyentuh hati, dia pasti suka. Kebetulan waktunya tepat banget ketika dia lagi nunggu lama pesenan makanan yang dia pesen.

Aiiihh...bagus Kak, memang dari dulu Kak Aby itu paling jago buat puisi.”

Akhirnya gue bisa ngeliat lagi senyumnya. Dari dulu dia juga suka banget sama puisi-puisi yang gue buat. Bahkan dia suka ketik ulang di laptop dan dia simpen di file khusus dalem laptopnya, agar bisa dia baca-baca lagi.

Tapi untuk kali ini rasanya puisi aja enggak cukup, gue harus bisa ngebuat dia kembali ceria. Dia kadang sifatnya itu agak paradox atau berlainan sama asas yang semestinya. Katanya masuk angin dan perutnya juga suka mules, tapi malah mesen makanan yang banyak sambelnya. Dasar, dibilangin juga percuma nanti yang ada dia malah gak jadi makan. Udah laah biarin aja laah, yang penting dia seneng. Terus gue juga udah biasa nyium bau semerbak kentutnya itu, kayaknya tabung gasnya mulai ada yang bocor lagi.

Tawa kami meledak bersama saat bercerita tentang hal-hal konyol yang sudah kami lalui bersama. Senang banget bisa membuatnya ceria lagi dan jiwa ini juga nyaman jika denger setiap cerita-cerita darinya. Apalagi jika gue sampe berhasil ngebantu dia mecahin masalah yang dia alamin. Mata itu, wajah itu gak akan sedetikpun gue alihin dari pandangan gue. Semua ini bukan untuk gue dan dia. Tapi, hanya untuk dia, hanya untuknya. Untuk Dian Astrid Helena, yang namanya udah terpahat jelas di hati ini.

Gue gak akan maksain kehendak buat bisa milikin dia, asalkan ngeliat dia bahagia. Itu udah cukup bagi gue.

Udah jam satu dan saatnya memulai aktivitas lagi. Astrid langsung kembali ke ruang HRGA sedangkan gue. Belum sempet gue ngelangkah lebih jauh ke atas, udah ada telpon dari Ibu Inna, ngabarin jika karyawan baru yang bernama Adan udah ada di lobby receptionist. Gue kembali turun ke bawah buat segera nemuin orang itu.

Siall...Ukh...
Apaan nihh?
Kenapa tiba-tiba napas gue terasa berat dan dada kiri gue agak terasa nyeri. Tapi enggak masalah, ini masih bisa ditahan, mungkin gara-gara begadang semalem dan gak sarapan tadi pagi. Gue genggam pegangan tangga dengan kuat, supaya gak jatoh dan gue juga harus tetep pasang wajah ceria seperti enggak terjadi apa-apa.

Rasanya sakit banget. Gue harus nemuin Claudia, yaa pulang nanti gue harus nemuin dia. Gue tiba di lobby, gue tanya Dinar apa bener cowok yang duduk itu bernama Adan?

Itu Kak orangnya, ganteng.” Canda Dinar. Setelah konfirmasi gue bener, gue menuju ke tempatnya duduk.
Ternyata orang yang bernama Adan ini sangat tampan. Dia putih, enggak terlalu tinggi, rambutnya lurus dan tertata rapih, badannya atletis. Namun kayaknya dia agak kikuk sama kurang gaul. Posisi gue sebagai orang yang tertampan di HRGA terancam nihh.

Gue bawa dia keliling di lantai bawah dulu ke ruang operasional dan seteleh itu ke lantai dua ke ruang Direksi. Beberapa orang di operasional berteriak, “di sini karyawan baru harus okem.” Itulah ciri khas para karyawan pria di operasional, sedangkan para wanitanya. Sangat berharap jika Adan ditempatin di bagian operasional. Di lantai dua sebenarnya juga ada dua cewek untuk admin dan sekretaris, tapi dua cewek itu dingin banget tingkahnya. Mereka berdua lebih mirip patung penjaga gerbang kematian daripada admin dan sekretaris.

Setelah di lantai tiga, tempatnya back office. Dari para karyawan wanita finance, accounting dan Koperasi sama dengan yang di operasional. Mereka ngarepin kalo Adan ditempatin bersama mereka, jika di finance dan accounting sii enggak apa-apa ngomong begitu. Karena mereka masih muda-muda dan ada beberapa yang mirip dengan model-model Jepang, tapi ini Koperasi. Isinya kan cuma Ibu-Ibu resah doank, huuffh dasar Ibu-ibu zaman sekarang. Memang sii, Adan itu orangnya ganteng dan sopan. Selama berkeliling juga dia jarang nanya dan ngoceh yang bukan-bukan.

Setelah berkeliling ke semua departemen. Sampailah kami pada ruangan departemen yang paling pojok dan terpencil, yaitu ruang HRGA. Kalo orang baru yang penglihatannya rada kabur, pasti nganggap ruangan ini kayak toilet atau gudang, karena letaknya yang bener-bener dipojok, lampu depannya remang-remang lagi.
Kami masuk ke ruangan dan gue mulai kenalin satu per satu pada orang yang ada di ruangan ini. Reaksi cewek-ceweknya sama aja. Astrid juga ikut tersenyum ngeliat dia. Sekarang dia tinggal gue taro di ruangan Bu Inna buat tanda tangan kontrak. Lalu, gue deketin Astrid buat nanyain gimana pendapatnya tentang karyawan baru ini. Kami memang suka share seperti ini ketika ada karyawan baru yang joint. Bahkan jika untuk bagian accounting kami suka taruhan berapa lama karyawan itu bisa tahan oleh siksaan zaman Jepang di departemen tersebut.

Oii...gimana menurut Astrid anak baru itu?”

Diaa...”
Pasti ganteng kan?” Ucap gue memotong.
Enggak...dia keliatan bodoh dan culun.”

Aa...apa? Kenapa bisa kayak gitu?”

Gak apa-apa, emang keliatannya kayak gitu. Udah ahh Kak, aku mau lanjutin kerja lagi.”
Gue cuma bisa tersenyum denger ucapannya. Kayaknya luka yang dibuat mantannya itu cukup dalem. Gue denger darinya jika pria itu selalu nunjukkin sikap yang amat serius padanya. Mereka ingin lanjutin hubungan mereka sampe ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Menikah, punya rumah dan kendaraan pribadi dan janji-janji lainnya yang palsu. Namun nyatanya, udah bisa gue tebak. Sekali lagi dia mencintai pria yang salah, karena orang yang paling pertama dan banyak janji itu, biasanya adalah orang yang gak punya kemampuan apa-apa. Dan untuk kali ini dalem sementara waktu, pasti dia nutup hatinya untuk pria lain.

Waktu enggak terasa begitu cepet. Udah sore lagi, hari ini bener-bener runyam buat Astrid. Dia kenal omel Ibu Inna, dibilangnya sii ada beberapa karyawan bahkan rekanan outsourcing yang ngeluh jika pelayanan yang diberikan Astrid kurang memuaskan. Dia enggak tersenyum, dan dalam beberapa waktu ini juga seringkali beragumen dengan beberapa karyawan.

Ruangan HRGA udah sepi, yang tersisa tinggal kami berdua. Gue nemenin dia lembur, walaupun rasanya nafas gue terasa semakin berat. Dia masih aja masang wajah kesel, tapi itu lebih baik. Karena dia terliat lebih cantik kalo lagi kesel, daripada sedih.

Gue berdiri dan mendekat ke mejanya, menyentuh pundaknya dan tersenyum, lalu berkata.

Gak perlu sempurna dan cari muka kalo cuma untuk disukai sama semua orang. Tapi cukup bahagia dari diri sendiri dulu, baru kita bisa bahagiain oranglain, dan oranglain akan suka sama kita.”

Dia natap gue dengan diam, namun gue tau pasti ada yang ingin dia ucapin.
Tapi Kak, gak tau kenapa aku gak bisa kayak gitu. Aku merasa aku punya banyak kelemahan dan kekurangan.”

      Astrid...umm...bagi Kakak Astrid punya semuanya. Astrid berpikir apa yang Astrid punya sekarang kurang sesuai dengan apa yang Astrid harapin...tapi jika Astrid liat dari pandangan orang lain...maka Astrid punya banyak.”

      “Beneran itu Kak?”

Tentu. Astrid berasal dari keluarga terpandang, berpendidikan, wajah yang cantik, tubuh yang sexy, punya penghasilan dari kerjaan yang terkadang ngejengkelin. Itu semua udah Astrid milikin, dan. Astrid gak lupa kan cara tersenyum?”

Dia gelengin kepalanya sambil tersenyum

Astrid gak lupa kan jika Astrid punya lesung pipi yang sangat manis.”

Sekali lagi dia gelengin kepala sambil tersenyum dan berucap, “iyaa.”
Itu bagus. Tersenyum dan berbahagialah hari ini. Hari ini mulai berdo’a lagi, hari ini mulai beraktivitas lagi, hari ini jangan sampe ada sedih lagi. Semuanya untuk hari ini dan cerita hari ini, usahakan yang terbaik.”

Jam setengah tujuh tepat, kami pulang. Di perjalanan dia gak ada hentinya kembangin senyuman dan megang badan gue dengan erat pada saat naik motor. Expresi dia yang kayak ini, baru pertama kali gue liat.

Dia terliat seperti sangat lepas dan tanpa beban hidup. Dia nyapa setiap orang yang dia lewatin, bahkan pengemis pun dia ajak joget. Tapi gue biarin dia, gue gak akan negor dia bahkan menilainya. Karena yang terpenting adalah kebahagiaannya.
Akhirnya sampe juga di depan rumahnya. Rasa sesek sama sakit di dada juga kayaknya gak terasa kalo terus-terusan sama dia.
Kaak....Makasih yaa udah dengerin cerita aku dan kasih semangat ke aku di hari ini.”
Emmm...tapi kayaknya gak cuma di hari ini aja deh.” Ledek gue.

Iyyaa tau, tapi yaa gimana yaa...yang paling berkesan tuhh hari ini.” Ucapnya sambil ngembangin senyuman manja andalannya, yang ngebuat gue terpukau setiap kali meliatnya.

Huuffhh....cukup tenang dan damai juga gue nutup hari ini.

Sebisa mungkin gue harus terliat kuat dan ceria di depannya, gue gak boleh keliatan sedih apalagi lemah. Karena jika gue nunjukkin kesedihan dan kelemahan, pada siapa lagi nanti dia bakal bersandar. Pada siapa lagi dia nanti akan curahin isi hatinya jika gue sendiri juga keliatan kesusahan sama hidup gue.

Namun sepertinya itu gak akan berlangsung lama, iyaa enggak akan berlangsung lama, he..he..he..he..gue harus. Gue harus cari orang yang tepat, orang yang bisa jagain dan ngebuat dia tersenyum dan selalu tersenyum dalam hidup. Untuk dia yang gak pernah tersembunyi dari pandangan gue dan mencintainya adalah bagian terbaik dari hidup gue. Di cerita hidup yang tersaji dalam setiap detak jatung ini.



Rabu, 16 Mei 2012

Ku Bunuh Kau, Sepi

Sudah senja hari lagi...

Menjalani hidup yang membosankan dan akhirnya.. Mati..

Rasanya percuma terbangun di pagi hari, setiap harinya selalu sama saja..
Aku selalu sendiri..

Menyedihkan..

Harus menunggu dan menunggu..berharap masih ada tempat yang layak untuk membuang kesepian ini..
Di saat yang lain pergi bersama dengan semua impian dan cita-citanya..

Aku hanya bisa menatapnya dengan terpaku..dan menundukkan kepala ini, agar keangkuhannya tidak menghinaku..
Tapi mau bagaimana lagi..hanya ini yang bisa kulakukan..

Menunggu..dan menunggu..

Hingga tubuh ini lelah.. Tanpa tahu pasti kapan kesendirian dan kesepian ini akan berakhir.. Aku tidak pernah menyalahkan hidup yang telah menjadikanku seperti ini..tidak pernah menyalahkan kelemahan yang ku punya dan tidak pula membanggakan kehebatanku..

Karena bagiku..

Itu semua saja..tidak sedikitpun ada yang membantuku.. Andai ada yang memiliki hati kecil ini..tanpa kejam meninggalkannya..

Maka akan ku bunuh, sepi..

Dan melepaskan kepergiannya dari sisi ini..

Nyanyian malam..

Janganlah pergi dulu..aku masih membutuhkanmu untuk mengingat dan mengenangnya..

Aku menyesal tidak berkata apapun sebelum dia pergi.. Tidak berkata bahwa dia sempurna..dan tidak berterima kasih padanya jika selama ini dia telah mengindahkan waktu ku..

Sungguh menyakitkan..

Bisa mengenalnya, tapi hanya sekedar mengenalnya..dan tidak bisa memilikinya..

Ku terpaku membayangkan betapa indah saat masih bisa melihatnya.. Kenangan untuknya sangat dalam, bahkan terlalu dalam..

Hingga tidak ada kenangan untuk jiwa yang lain.. Langit dan lautan, maafkan aku menduakan kalian..karena dia memang lebih sempurna..

Jumat, 16 Maret 2012

2W 2K D1B part 1


Ini hari pertamaku bekerja di perusahaan yang ke dua semenjak aku lulus dari kuliah. Sebuah kantor yang bergerak di bidang perdagangan export textile. Bentuk tempat kerjaku bernuansa semi kantor, banyak ruang-ruang yang tidak terpakai dan sekitarnya pun masih banyak pohon serta genangan-genangan air yang terbentuk seperti rawa.

Di hari pertama ini aku kebagian tugas untuk mengeliligi absen, atau tepatnya lagi, meminta konfirmasi ke para supervisor dari masing-masing department atas ketidakhadiran para staf-stafnya. Tujuannya adalah agar aku lebih cepat mengenal para karyawan dan tempat-tempat untuk masing-masing departmentnya. Apalagi aku adalah orang HRD.

Kantor yang kedua ku ini sangat luas, karena aku bertempat di kantor pusat, bukan bertempat di cabang seperti kantorku dulu.
Setelah berkeliling ke department operasional, finance, IT, dan asset. Sekarang giliranku untuk meminta konfirmasi pada supervisor yang ada di bagian marketing. Ruang marketing terletak di lantai satu. Ruangannya cukup luas, tapi gelap. Entah apa yang membuatnya bisa gelap seperti itu.

Aku berjalan menuju pintu masuk ke ruangan marketing, namun sebelum tepat di depan pintu masuk. Ada ruangan kecil, tapi terlihat cukup rapih dan nyaman. Sepertinya ruangan itu digunakan untuk ruang meeting kecil. Karena di dalamnya aku melihat ada beberapa orang, emmm tepatnya enam, ohh tidak tujuh orang.
Ada wanita muda cantik bertatapan mata tajam, berambut hitam sepangkal leher, berbaju kuning dilapisi blazer hitam dan sedang dalam keadaan hamil. Duduk di sisi kiri proyektor yang digunakan untuk presentasi meeting tersebut.

Aku pun berlalu dari ruang tersebut dan mulai masuk ke ruangan marketing untuk meminta konfirmasi kepada supervisor tentang ketidakhadiran stafnya. Ternyata setelah masuk, ruangannya cukup nyaman dan orang-orangnya juga ramah serta sopan. Aku jadi menaruh rasa hormat pada mereka.

Bagian marketing sudah. Kini aku harus kembali ke lantai dua, untuk meminta konfirmasi di bagian purchasing, karena tadi sempat terlewat olehku. Bagian purchasing ini letaknya sangat tidak biasa, dia terletak di bagian paling pojok sekali dari kantor ini, dan tepat di luar sampingnya terdapat rawa yang masih sangat banyak pepohonan dan rerumputannya.

Aku pun masuk ke ruangannya, ruangan yang sangat dingin. Tapi, tidak dengan para orang-orangnya. Orang-orangnya sangat ramah dan hangat, namun di ruangan itu entah mengapa rasanya aku pernah melihat salah satu dari mereka.

Seorang wanita muda cantik bertatapan mata tajam, berambut hitam sepangkal leher, berbaju kuning dilapisi blazer hitam dan sedang dalam keadaan hamil. Duduk di sudut ruangan sedang menatap keluar jendela, yang diluarnya langsung terhampar pemandangan rawa tersebut.

Aku menatapnya dengan serius, bahkan sampai keluar dari ruangan itu. Aku terus memikirkannya. Mungkin saja orang itu punya saudara kembar. Tapi, mengapa pakaian dan keadaannya yang sedang hamil sangat mirip sekali. Apa itu cuma kebetulan?

Ahh..sudahlah. Jika terus memikirkan hal itu, nanti akan mengganggu konsentrasiku terhadap pekerjaanku, lebih baik lupakan saja.

***********
Dua Minggu sudah berlalu semenjak aku bergabung di perusahaan ini. Aku masih kebagian tugas untuk meminta konfirmasi absen kepada para supervisor atas ketidakhadiran para stafnya, karena di department kami belum mendapatkan karyawan magang yang bisa diberikan tugas tersebut.

Ini hari Senin. Hari yang dibenci oleh sebagian orang, karena di hari inilah segala macam aktivitas dan rutinitas dimulai kembali untuk satu Mingu ke depan. Sedikit berbeda denganku, aku memulai hari ini dengan perasaan dan semangat yang biasa saja, karena memang tidak ada rencana yang istimewa.

Menjelang sore hari aku menyempatkan diri untuk mulai meminta konfirmasi ke para supervisor di masing-masing department. Kali ini hanya ada dua berkas, yang harus ditanda tangani oleh supervisor di derpatment yang bersangkutan sebagai tanda konfirmasi atas ketidakhadiran stafnya. Yaitu marketing dan purchasing.

Lebih baik ke bagian marketing saja dulu, pikirku. Soalnya memang harus ada berkas yang harus ku ambil di sana. Aku pun mulai berjalan menuju ruangan tersebut, ku berjalan menuju pintu masuk ke ruangan marketing, namun sebelum tepat di depan pintu masuk. Aku sempat melewati ruangan meeting kecil. Aku melihat ada beberapa orang yang sedang meeting lagi di dalamnya.

Lalu, seperti beberapa waktu sebelumnya. Lagi-lagi aku melihat ada wanita muda cantik bertatapan mata tajam, berambut hitam sepangkal leher, berbaju kuning dilapisi blazer hitam dan sedang dalam keadaan hamil. Duduk di sisi kiri proyektor yang digunakan untuk presentasi meeting tersebut.

Aku langsung mengalihkan pandangan dari ruangan itu dan menuju ruangan marketing untuk melaksanakan salah satu tugasku.
Setelah selesai dan mengambil berkas penting yang harus ku ambil di sana, kini aku kembali bergegas untuk menuju ruangan purchasing. Aku kembali melewati ruang meeting tadi, dan ku lihat wanita tersebut masih ada di sana.

Setibanya aku di ruangan purchasing, aku segera meminta tanda tangan pada supervisor department tersebut tentang ketidakhadiran stafnya.
Aku terkejut mendapati bahwa ternyata sekali lagi wanita itu sudah ada di ruangan ini. berada di sudut ruangan sedang memandangi komputer yang ada di hadapannya. Kejadian ini sama dengan yang dua Minggu lalu, baju yang dikenakannya juga sama.

Siapa sebenarnya dia?

Ada hal yang membuatku sedikit takut, ternyata komputer yang dihadapannya itu adalah komputer yang dalam keadaan tidak menyala dibandingkan keadaa komputer lain, dan yang lebih membuatku bertambah takut adalah. Bahwa wanita itu hanya berdiam diri saja, dia tidak ikut berbaur dan berkomunikasi dengan yang lainnya. Bahkan karyawan lain menganggapnya seperti tidak ada.

Aku yang dibakar rasa penasaran, berniat untuk memeriksa keganjilan ini. Aku kemudian berjalan keluar dari ruangan itu, untuk memastikan keberadaan wanita itu di ruang meeting yang ada di samping ruang marketing. Aku perlahan memperhatikannya dari luar dibalik tebalnya kaca ruangan tersebut.

Iyya, wanita itu ada. Hal umum yang ku perhatikan adalah berkas yang ada di hadapan masing-masing dari peserta meeting. Karena pada umumnya orang yang meeting itu pasti membawa berkas-berkas yang diperlukannya. Tapi wanita ini, tidak dia tidak membawa apa-apa dan sama pula dengan yang di ruangan purchasing tadi. Dia hanya berdiam diri, dia tidak ikut berbaur dan berkomunikasi dengan yang lainnya. Bahkan karyawan di ruang meeting ini juga menganggapnya seperti tidak ada.

Aku jadi semakin penasaran siapa dia sebenarnya, tanpa sadar langkah kakiku semakin mendekat ke ruang meeting. Namun aku tetap berusaha menjaga jarak dari ruang itu, agar tidak menganggu acara meeting.

Aku menghentikan langkahku dan melihat sekelilingku, menarik nafas, menundukkan kepala dan perlahan aku mulai fokus untuk memperhatikan wanita itu.
Tanpa kusangka wanita tersebut menatap ke arahku sambil mengusap lembut perutnya yang sedang hamil. Dia tersenyum dengan mata melotot ke arahku, kemudian yang membuatku ingin menjerit adalah ketika dia terus melotot ke arahku sambil memutarkan kepalanya 360 derajat ke belakang lalu kembali ke depan.

Astaga apa aku sedang bermpimpi atau tidak??
Sedang berkhayal atau tidak??
Rasanya semuanya seperti tersaji nyata dalam waktu ini.

Selasa, 21 Februari 2012

BUKAN HATI, TAPI OTAK...

Pusat emosi manusia ada di dalam hati. Apabila kita sedang merasa sedih, putus asa, frustasi dsb. Maka hati kita akan merasakan sakit. Tapi, apakah itu benar???

Karena pada kenyataannya. Itu hanya kepercayaan puitis filosof kuno. Pusat emosi manusia ada dalam otak, di dalam beberapa struktur yang saling berhubungan.
Pusat emosi ini disebut hypothalamus.

Hypothalamus besarnya kurang dari 1 cm³ meskipun demikian struktur yang kecil ini memberi pengaruh pada perilaku manusia.

Lalu, untuk rasa-rasa sakit yang ada di sekitar lambung maupun hati. Itu memang benar adanya.

Gejala itu disebut dengan Psikosomatik, yaitu masalah psikis seperti stress, gugup, putus asa, frustasi dsb. Yang dapat menimbulkan gangguan fisik seperti maag, asma, alergi, telapak tangan berkeringat dsb.

Singkatnya, ada contoh : Seseorang baru saja mengalami patah hati. Maka jika kurang bisa menerima dan menyesuaikan diri, orang ini kemungkinan akan mengalami sedih bahkan depresi. Kesedihan dan depresi adalah salah satu dari sekian banyak gejala psikis.

Gejala psikis yang berkelanjutan ini akan muncul dalam bentuk rasa sakit di sekitar lambung maupun hati, yang disebut dengan psikosomatik.

Jadi bukan hati melainkan otak.

Kamis, 12 Januari 2012

KEJUTAN BESAR


Sambil menunggu Veryn dan Tuan Shetra yang ingin mengambil beberapa keperluan untuk Risa, aku duduk di kursi yang ada di koridor bangsal Arjuna. Suasana bangsal ini cukup ramai, tidak seperti biasanya yang sepi. Tuan Shetra bilang sii, karena ada salah satu suster yang ulang tahun hari ini, yaitu suster Arin, dan beberapa temannya ada yang ingin memberinya kejutan. Para suster itu sudah konfirmasi ke atasan dan para petugas keamanan yang ada di rumah sakit ini, agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Dengar-dengar mereka ingin memberikan kejutan besar, wajarlah kalau sampai konfirmasi ke atasan dan pihak keamanan. Aku duduk di bangku yang memang sudah disediakan pihak rumah sakit ini, aku enggan menambahkan kata jiwa di belakang rumah sakit ini. Terkesan aneh dan sadis untuk Risa.

Aku duduk di depan ruangan Chakra yang berada di persimpangan atau tepatnya si di pertigaan koridor. Jika aku menengok ke kiri, aku akan langsung melihat pertigaan koridor itu dan ruangan Astina. Lalu, ruangan paling pojok yang berada di jalan buntu koridor adalah ruangan Hrudadali tempat penyimpanan alat-alat kedokteran.

Kira-kira Veryn dan Tuan Shetra lama apa tidak yaa?? Soalnya bosan juga nihh, klo cuma nunggu seperti ini. Di sini bau obatnya sangat menyengat di tambah lagi, aku samar-samar mendengar, seperti ada suara di dalam ruangan Chakra.

Pemandangannya juga sangat membosankan. Taman yang ada di depanku ini, kurang terawat. Bunga-bunga yang tidak terurus, tanaman menjalar yang kusut, daun-daun kering yang tidak dibersihkan secara berkala. Ditambah lagi koridor ini juga kurang sekali penerangan cahanya. Padahal baru jam lima sore, tapi sudah cukup gelap di dalam koridor ini.

Para suster-suster ini berlalu lalang untuk mempersiapkan kejutan kali yaa, karena keliatannya sibuk sekali daritadi. Menyiapkan kejutan di sore hari, setelah pekerjaan selesai yaa. Kreatif dan saling peduli dengan teman yaa mereka. Dengan baju dan peralatan yang digunakan. Aku sudah bisa menebak kalau mereka ingin mengerjai suster Arin dengan berpura-pura menjadi hantu suster ngesot.

Haaffhh..trik dan kejutan lama yang membosankan, apanya yang kejutan besar kalau kayak begini. Suster Arin memang penakut, tapi apa bisa dia dikerjai dengan trik lama seperti ini? Dia kan cerdas.

Mereka ada di ruangan Astina, tempat berkumpulnya para suster. Sedangkan suster Arin ada di ruangan Hrudadali. Lagi membersihkan ruangan karena dipinta oleh Ibu Ursa selaku atasannya, yang tanpa sadar padahal dia cuma dikerjai. Atasan yang baik, beliau tidak mau dipanggil dengan sebutan Dokter. Beliau lebih senang dipanggil dengan sebutan Ibu.

Hmm..aku kira kejutan besar yang seru. Ternyata cuma seperti itu, nambah membosankan deh. Padahal aku sangat mengharapkan kejutan besar saat ini.

Aku menopangkan dagu di kedua tangannku yang bertumpu pada teras pembatas koridor dan taman, sambil memetik beberapa daun pohon jeruk nipis yang berada tepat di depanku. Hitung-hitung untuk mengurangi kebosananku.

Srekk..srekk..

Suara apa itu?? Aku menengok ke sisi sebelah kiri. Ohh..ternyata acara kejutannya sudah di mulai. Aku berdiri untuk melihanya lebih jelas. Pintar sekali make-up ala hantunya. Wajahnya benar-benar menjadi sulit dikenali.

Riasan mata yang menghitam, seluruh wajah seperti bara api yang menyala. Lalu, wahh memang benar-benar hebat para suster itu. Kakinya pun dirias seakan benar-benar lumpuh, dengan darah dan luka besar yang terkoyak sehingga tulangnya kelihatan.

Perlahan-lahan mendekati pintu ruangan Hrudadali, dan aku ingin sekali melihat reaksi suster Arin begitu melihat wujud hantu itu. He..he..he..sepertinya cukup menyenangkan.

Dia sudah ada di depan pintu, suster yang akan mengagetkan suster Arin sudah ada di depan pintu, dengan riasan hantu ala suster ngesot.

Aku mengedepankan tas kecil yang awalnya berada di samping, lalu tanpa sengaja aku menjatuhkan pulpen. “Ichh ribet, ga’ tau orang mau senang-senang apa?” Gerutuku sambil mengambil pulpenku yang terjatuh.

Setelah mengambil pulpen itu dari lantai, aku menaruhnya kembali di tempatnya yang tepat dalam tasku, supaya tidak jatuh lagi.

Aku berdiri lagi. Kemudian melihat ke depan ruangan Hrudadali. Ihh, suster yang ngerjain tadi sudah ga’ ada? Masa masuk pintunya cepat banget? Aturan mahh ketuk dulu pintunya, biar dibuka sama suster Arin. Kemudian dia kaget melihat sosok suster ngesot itu, lalu surpriiise. Bukankah begitu lebih baik. Pikirku dalam hati melihat rencana para suster yang kurang baik menurutku.

Jadi , sekarang tinggal menunggu teriakan suster Arin dari dalam ruangan dan para suster berhamburan datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
.......

Waktu hening aku rasakan selama satu menit. Lama sekali? Kok, ga’ teriak-teriak?

Emm..aku berpikir sejenak. Lalu ada baiknya ku lihat saja ke dalam ruangan itu. Mengapa suster Arin ga’ teriak, ada kemungkinan dia pingsan begitu melihat sosok hantu itu.

“Baiklah coba aku lihat saja apa yang terjadi di dalam” ucapku dengan pelan.

Namun ketika tepat di persimpangan, aku melihat ada sosok putih lagi yang keluar. Sama seperti yang tadi, kali ini hantunya juga suster ngesot. Tapi, make-up hantunya tidak begitu bagus seperti yang pertama tadi. Kali ini terkesan asal-asalan, malah aku masih bisa mengenalinya.

Dia suster Sari yang berpura-pura jadi suster ngesot. Aku langsung memberhentikan langkahku, kemudian menatapnya dengan keheranan. Mengapa dua-duanya harus hantu suster ngesot?

Dia menoleh ke arahku, dia tahu jika aku perhatikan. Dia menatapku dan memberiku isyarat agar tetap tenang, dengan menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke bibir. Tiba-tiba dari dalam ruangan Astina yang ada di sebelah kirinku, keluar suster Gerson menyambar tanganku dan berbisik. “Sstt tenang saja. Jangan takut itu suster Sari.”

“Ii..iiyya.” jawabku dengan gugup dan heran.

Tidak usah gugup dan ketakutan begitu. Nanti kita lihat reaksinya Arin..he..he..he..pasti menyenagkan.” Kata suster Gerson dengan nada senang. Sambil melihat gerakan suster Sari yang lucu di bawah lantai. Suster yang lain pun hanya bisa tertawa kecil dari dalam ruangan mengintip di sela-sela jendela. Melihat gerakan-gerakan aneh yang dibuat suster Sari, ketika hendak mencapai pintu ruangan Hrudadali.

“Kenapa harus dua?” bisikku pada suster Gerson.

Suster Gerson terlalu asik melihat tingkah suster Sari yang lucu di bawah lantai, sampai tidak menyadari pertanyaanku.

“Suster?” Ucapku dengan suara yang lebih keras.
“Hmm..iyya ada apa?” sahutya.
Akhirnya dia mendengarkanku. “Kenapa hantunya mesti ada dua? Terus sama lagi. Sama-sama suster ngesot?” tanyaku pada suster Gerson.
“Dua? Dua apanya?” suster Gerson balik bertanya padaku.
“Itu loo yang jadi suster ngesotnya. Kenapa mesti ada dua?” jawabku dengan ku pertegas di setiap ucapannya.
“Dua? Orang cuma satu kok. Mengkhayal kali kamu.” Jawab suster Gerson dengan agak kebingungan mendengar ucapanku.
“Enggak suster, saya ga’ mengkhayal sebelum suster Sari. Tadi ada juga yang jadi suster ngesot.” Ucapku dengan nada panik.
“Siapa??” Tanya suster Gerson dengan wajah dan tatapan yang dingin.
“Saya juga ga’tahu.” Jawabku.
“Lalu di mana sekarang suster yang kamu lihat tadi?” Tanya suster Gerson lebih dalam padaku, yang sudah terlihat mulai hilang kendali.
“Sepertinya ada di dalam ruang Hrudadali bersama suster Arin.” Jawabku.
“Masuknya bagaimana?” Tanya suster Gerson lagi padaku.
“Saya kurang tahu. Awalnya dia sudah sampai di depan pintu. Pulpen saya jatuh, saya berusaha mengambilnya. Kemudian setelah saya mengambil pulpen saya yang jatuh, saya melihat lagi ke depan pintu ruangan itu. Ternyata suster itu sudah ga’ ada.” Ceritaku pada suster Gerson yang semakin gugup karena sosok suster yang pertama tadi.

Suster Gerson hanya terdiam mendengar ceritaku tadi, yang terkesan mengaran-nagarang cerita. “Emm..coba deh kamu perhatiin dengan benar.” Ucapnya sambil menunjuk ke arah pintu dan suster Sari yang saat itu sedang mengetuk-ngetuk pintu ruangan Hrudadali. Tok,tok,tok.

Trak, trak, jtak. Terdengar sangat jelas suara itu, suara yang cukup familier bagiku. Suara itu suara kunci yang di buka.
“Kamu tahu suara itu?” Tanya suster Gerson.
“Ii..ii..iyya. Itu suara kunci.” Jawabku dengan nada suara yang berubah. Dari gugup menjadi takut.
“Nahh itu kamu tahu. Ruangan itu dikunci dari dalam oleh suster Arin, karena dia ga’ mau ada yang mengganggu dia waktu merapihkan peralatan yang ada di dalam ruangan itu. Karena Bu Ursa juga berpesan begitu padanya, agar dia mengunci pintu itu dari dalam supaya ga’ diganggu sama suster lain. Yaaa, walaupun itu ternyata cuma akal-akalan kami untuk ngerjainnya.
Jadi, yang kamu lihat tadi siapa yang masuk ke dalam ruangan yang dikunci dari dalam itu.” Tanyanya padaku.
“Saya ga’ tahu suster.” Jawabku dengan ketakutan dan tiba-tiba.

Aaaaaaaaagghhh.

Di tengah diamnya diriku karena hal yang baru ku alami tadi, suster Arin berteriak histeris begitu melihat suster Sari yang berpura-pura jadi hantu suster ngesot.
Lalu, di saat dia hendak menjauh dan menutup pintu kembali. Para suster yang ada di dalam ruangan Astina keluar untuk mengucapkan kata surprise dan menyanyikan lagu ulang tahun untuknya.

Namun, bagiku kejutan terbesar adalah yang baru saja ku alami. Siapakah suster yang aku lihat tadi? Suster dengan wajah merah membara seperti bara api dan kaki dengan luka terkoyak.

Entah mengapa tiba-tiba aku melemparkan pandanganku pada pohon beringin besar yang berada cukup jauh dari ruangan Hrudadali. Aku melihat sepertinya ada seseorang yang sedang duduk dengan kaki menyamping di bawah pohon itu menatap ke arahku.
Aku memfokuskan pandanganku ke arah orang yang menatapku itu, samar-samar ku lihat orang itu berpakaian ala suster. Sepertinya itu suster yang aku lihat tadi. Iyya potongan rambutnya sama, tapi sedang apa di sana? Bukannya lebih baik berkumpul bersama disini.

Aku hendak mengadukannya pada suster Gerson. Hendak bilang kalau yang aku lihat tadi kemungkinan suster yang ada di bawah pohon itu.
Namun, saat aku menoleh ke arah kiriku suster Gerson tidak ada. Ke mana dia??
“Suster..suster..suster Gerson??”

Aku memanggil-manggilnya sambil membalik-balikan badanku untuk mencarinya di semua posisi. Kemudian aku berpikir, dia mungkin sudah berbaur dengan teman-temannya yang ada di depan pintu ruangan Hrudadali sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk suster Arin.

Tapi, aku perhatikan dengan seksama dia memang ga’ ada diantara kerumunan itu. Ke mana dia? Aku mulai berpikiran yang bukan-bukan.
Tiba-tiba ada yang menepuk bahu kananku. Aku pun tersentak kaget. “Aahh.”
“Ei, santai gadis.” Ucap orang yang menepuk bahuku dari sebelah kanan itu, dan ternyata itu suster Gerson.
“Suster, syukurlah.” Aku bernafas lega, setelah melihat kembali suster Gerson. “Suster ke mana tadi, kok tiba-tiba menghilang.” Tanyaku padanya.
“Tadi??? Menghilang?? Maksudnya apa?? Orang dari tadi saya ada di ruangan Chakra membuat laporan.” Jawabnya dengan nada heran melihat expresiku yang seperti orang ketakutan.
“Haahh?” desahku. “Itu beneran suster?” tanyaku padanya.
“Iyya untuk apa saya bohong, saya ada di ruangan Chakra dengan Bu Ursa. Kalau ga’ percaya tanya saja sama beliau!” Perlahan Bu Ursa pun keluar dari ruangan Chakra untuk ikut membaur dengan para suster. “Kamu ngaco ahh. Mungkin kamu kecapean karena observasi hari ini. Jadi khayal yang bukan-bukan.” Ucapnya padaku.
“Ada apa Gerson?” Tanya Bu Ursa dengan melihat kami berdua.
“Ti..tidak ada apa-apa kok Bu.” Jawabku dengan ketakutan dan kebingungan yang ditahan aku menjawab seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku melihat ke pohon beringin besar itu, orang yang menatapku di sana juga sudah tidak ada. Hilang entah kemana. Aku menahan rasa takut ku lagi, seolah-olah tenggorokanku seperti terbakar karena teriakanku yang tertahan di tengahnya.
Jika suster itu bukan termasuk dari suster yang berjaga di shift ini, lalu siapa? Dan jika suster Gerson benar-benar sedang membuat laporan bersama Bu Ursa di ruang Chakra, berarti yang tadi berbicara denganku itu siapa??
Tubuhku merinding memikirkan hal itu.

Aku menundukkan kepala menggenggam erat tali tasku dan mengucapkan kata. “Sudah sore, sepertinya saya memang butuh istirahat. Saya permisi pulang yaa Bu Ursa dan suster Gerson.” Keduanya menatapku dengan keheranan.
“Iyya hati-hati yaa” jawab Bu Ursa.

Lalu suster Gerson menarik tangan kiri Bu Ursa ke arah para suster yang sedang merayakan ulang tahun suster Arin. Agar segera berbaur dengan mereka.
Aku sempat menoleh ke belakang, melihat mereka bersenang-senang. Sementara aku ketakutan setengah mati karena baru saja mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan bagiku.

Aku berjalan merunduk sepanjang koridor bangsal Arjuna itu, berharap secepatnya keluar dari koridor yang gelap ini.

Aku melihat jam tanganku. Sudah pukul 18:00. Di saat aku masih merunduk untuk melihat jam tanganku. Tiba-tiba aku melihat bayangan hitam panjang di bawah penyinaran lampu yang remang-remang di koridor ini.

Aku kaget, tersentak respon mundur ke belakang dan seakan ingin menjerit. Namun setelah ku tegakkan badan dan melihat dengan jelas, ternyata itu Veryn dan Tuan Shetra.

“Ada apa Dee?” Kok kayak ketakutan gitu?” Tanya Veryn.
Aku melihat mereka berdua dengan pandangan tajam. Lalu, untuk sedikit menguji asumsiku kalau mereka benar sungguhan. Aku mencubit pipi Veryn yang putih dan kurus dengan keras menggunakan tangan kiriku.
“Auww.” Teriak Veryn.
Kemudian aku pukul perut Tuan Shetra, namun dengan cekatan dia menangkap tinjuku. “Uups.” Ucapnya saat menangkap tangan kananku yang hendak memukulnya.
“Kamu gila yaa?” Keluh Veryn dengan nada kesal padaku.
“Sepertinya kau baru saja mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan yaa?” Tanya Tuan Shetra.
“Kenapa, Dee?” Tanya Veryn lebih lanjut.
Dengan nada gugup aku menjawab. “Emm..engga’ apa-apa. A..aku cuma mau menguji asumsiku. Ternyata gerakan respon pria, emm..memang lebih baik dibanding wanita.” Alasanku pada mereka.

Veryn kebingungan menatapku, sedangkan Tuan Shetra hanya tertawa kecil mendengar alasanku yang sedikit masuk akal tadi. Karena sepertinya dia tahu kalau aku baru mengalami peristiwa buruk, itu sudah dia buktikan dari ucapannya tadi.

“Kalian..sudah selesai mengurusi keperluan untuk..Risa?” tanyaku, masih dengan nada gugup dan ketakutan.
“Sudah. Semuanya sudah beres.” Kata Tuan Shetra dengan singkat. Sedangkan Veryn hanya terdiam menatapku yang gugup dan dibasahi keringat. Tentunya sebagai mahasiswi Psikologi dia juga pasti tahu tentang reaksiku ini, meskipun sedikit.
“Kalau begitu. Bisa kita pulang sekarang?” tanyaku.
“Tentu.” Jawab Tuan Shetra dengan expresi tersenyum mengembang di wajahnya. Kontras sekali dengan expresiku ini.

Kami pun kemudian segera bergegas pergi dari rumah sakit ini.
Di dalam perjalanan. Di mobil aku duduk di kursi depan dengan Tuan Shetra, sedangkan Veryn duduk di belakang sendirian. Aku berusaha keras melupakan kejadian tadi, namun rasanya sulit sekali. Aku melihat kaca yang ada dia atas antara kursi penyetir dan kursi penumpang. Aku melihat Veryn memperhatikanku dari posisi kiri di belakang Tuan Shetra, dengan tatapan kebingungan.

Dia saja yang cuma melihat reaksiku saja bingung. Apalagi aku yang mengalaminya sendiri.

Huuuffhh..berharap dapat kejutan besar, dan memang benar-benar dapat kejutan besar. Tapi, kejutan besar yang mengerikan. Fuhhff..aku meniup ke atas, meniup beberapa helai rambut yang menutupi keningku.

Jumat, 30 Desember 2011

GADIS DI ATAS BUKIT DAN MALAM MENJELANG PERGANTIAN TAHUN...



Entah mengapa pada saat ini rasanya, aku seperti bisa melihat mimpiku tanpa terlelap.

Aku bisa melihat jelas jika di depan mataku, ada sebuah gundukan bukit kecil yang ditengahnya ada seorang gadis muda berusia sekitar seumuranku.

Di sebelah kiri sudut pandanganku ada kumpulan asap mengepul dan mengeluarkan bau yang tidak sedap, sehingga aku tidak terlalu fokus pada gundukan yang ada di depan mataku.

Gadis muda tersebut duduk dengan gelisah di sebuah kursi kayu berwarna coklat dengan ukiran yang aneh mengelilingi kursi tersebut.

Ku melangkah perlahan maju untuk melihat dengan jelas, ternyata gadis muda itu tidak sendirian. Dia dikelilingi oleh orang-orang dewasa yang berbaris dan membentuk lingkaran di sekitarnya.

Gadis muda tersebut nampak ketakutan pada kerumunan barisan orang yang melingkarinya itu. Seolah-olah sedang mengobservasi dan hendak menghukum gadis itu. Aku merasa kasihan pada gadis muda tersebut dan ingin sekali menolongnya.

Karena sewaktu barisan lingkaran orang-orang itu bergerak maju ke arahnya, semakin keras dan menyedihkan suara gadis itu dalam menunjukkan ketakutannya.

Tanpa pikir panjang lagi aku bergerak lari untuk membantu dan menolong gadis itu.
Berlari menaiki bukit kecil itu, menerobos barisan lingkaran yang mengelilinya dan melihat keadaan gadis itu.

Setelah hal itu semua aku lakukan.

Aku berhasil sampai di dekat tempat gadis itu berada. Aku merapikan beberapa helai rambut yang menghalagi pandanganku.

Lalu mulai fokus ke gadis itu. Namun apa yang ku lihat sangat jauh dari harapanku dan mengerikan.
Karena gadis yang aku lihat ketakutan dari kejauhan itu ternyata tidak memiliki wajah. Ukiran yang ada di kursi kayunya juga ternyata terbuat dari isi perut manusia.

Aku sangat ketakutan melihat hal itu.

Aku berjalan mundur menjauhi gadis itu yang kepalanya mulai diposisikan ke arahku. Kaki ku seperti tersangkut sesuatu ketika aku berjalan mundur itu, sehingga aku terjatuh di tanah bukit kecil itu.

Tapi, setelah aku raba dan mengenggam tanah penyebab aku terjatuh. Aku merasakan ada yang aneh pula dari gundukan bukit kecil ini.

Ternyata aku tersangkut tangan manusia. Aku melihat ke arah kiri dan kanan untuk melihat apakah sebenarnya bukit ini.

Bukit ini tidak terbuat dari tanah, bebatuan dan rerumputan.
Aku melihat wajah Ayah dan Ibuku bahkan Veryn, Bu Nilam para dosen dan teman-teman kuliahku dengan keadaan terbaring dan penuh darah di sekujur tubuhnya.

Aku meluruskan pandanganku, ternyata bukit ini terbuat dari gundukan mayat orang-orang yang ku kenal yang mengering dan tidak bernyawa.

Gadis itu masih memposisikan wajahnya ke arahku dan samar-samar aku mendengar suaranya yang melengking dan terkesan penuh dengan ke putus-asaan, berkata.

Apakah kau yang berikutnya?”

*****
Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak tidur di malam ini.
Di malam Jum’at.
Menjelang pergantian Tahun.