Taman Mimpiku
Jumat, 30 Desember 2011
GADIS DI ATAS BUKIT DAN MALAM MENJELANG PERGANTIAN TAHUN...
Entah mengapa pada saat ini rasanya, aku seperti bisa melihat mimpiku tanpa terlelap.
Aku bisa melihat jelas jika di depan mataku, ada sebuah gundukan bukit kecil yang ditengahnya ada seorang gadis muda berusia sekitar seumuranku.
Di sebelah kiri sudut pandanganku ada kumpulan asap mengepul dan mengeluarkan bau yang tidak sedap, sehingga aku tidak terlalu fokus pada gundukan yang ada di depan mataku.
Gadis muda tersebut duduk dengan gelisah di sebuah kursi kayu berwarna coklat dengan ukiran yang aneh mengelilingi kursi tersebut.
Ku melangkah perlahan maju untuk melihat dengan jelas, ternyata gadis muda itu tidak sendirian. Dia dikelilingi oleh orang-orang dewasa yang berbaris dan membentuk lingkaran di sekitarnya.
Gadis muda tersebut nampak ketakutan pada kerumunan barisan orang yang melingkarinya itu. Seolah-olah sedang mengobservasi dan hendak menghukum gadis itu. Aku merasa kasihan pada gadis muda tersebut dan ingin sekali menolongnya.
Karena sewaktu barisan lingkaran orang-orang itu bergerak maju ke arahnya, semakin keras dan menyedihkan suara gadis itu dalam menunjukkan ketakutannya.
Tanpa pikir panjang lagi aku bergerak lari untuk membantu dan menolong gadis itu.
Berlari menaiki bukit kecil itu, menerobos barisan lingkaran yang mengelilinya dan melihat keadaan gadis itu.
Setelah hal itu semua aku lakukan.
Aku berhasil sampai di dekat tempat gadis itu berada. Aku merapikan beberapa helai rambut yang menghalagi pandanganku.
Lalu mulai fokus ke gadis itu. Namun apa yang ku lihat sangat jauh dari harapanku dan mengerikan.
Karena gadis yang aku lihat ketakutan dari kejauhan itu ternyata tidak memiliki wajah. Ukiran yang ada di kursi kayunya juga ternyata terbuat dari isi perut manusia.
Aku sangat ketakutan melihat hal itu.
Aku berjalan mundur menjauhi gadis itu yang kepalanya mulai diposisikan ke arahku. Kaki ku seperti tersangkut sesuatu ketika aku berjalan mundur itu, sehingga aku terjatuh di tanah bukit kecil itu.
Tapi, setelah aku raba dan mengenggam tanah penyebab aku terjatuh. Aku merasakan ada yang aneh pula dari gundukan bukit kecil ini.
Ternyata aku tersangkut tangan manusia. Aku melihat ke arah kiri dan kanan untuk melihat apakah sebenarnya bukit ini.
Bukit ini tidak terbuat dari tanah, bebatuan dan rerumputan.
Aku melihat wajah Ayah dan Ibuku bahkan Veryn, Bu Nilam para dosen dan teman-teman kuliahku dengan keadaan terbaring dan penuh darah di sekujur tubuhnya.
Aku meluruskan pandanganku, ternyata bukit ini terbuat dari gundukan mayat orang-orang yang ku kenal yang mengering dan tidak bernyawa.
Gadis itu masih memposisikan wajahnya ke arahku dan samar-samar aku mendengar suaranya yang melengking dan terkesan penuh dengan ke putus-asaan, berkata.
“Apakah kau yang berikutnya?”
*****
Akhirnya, aku memutuskan untuk tidak tidur di malam ini.
Di malam Jum’at.
Menjelang pergantian Tahun.
Rabu, 21 Desember 2011
DEMI KEYAKINAN INI...
Selamat pagi...
Selamat datang di kisah hari ini, setangkai keindahan alam sudah menyambut hati ini. Berdaun harapan, beranting usaha dan tumbuh bunga keinginan. Tidak sedetik pun tadi malam aku melupakan wajahnya. Aku menatap Langit dan berharap semoga aku tidak merusak harinya nanti.
Terlahir sebagai monster yang mengerikan membuatku cukup malu untuk memilikinya, setiap hari sama halnya dengan siksaan yang menyakitkan. Hanya bisa melihatnya berjalan dan menari di atas Bumi ini tanpa bisa dekat dan mengenalnya seperti yang aku harapkan.
Semoga monster dalam diriku hari ini tidak menakut-nakutinya, cukup sedih juga jika apa yang kita cintai takut dan berlari ketika melihat kita. Tapi mau bagaimana lagi inilah aku, yang terlahir sebagai seekor Singa yang gagah dan mengerikan di hutan yang indah ini.
Di sinilah aku menunggu dan melihatnya untuk yang pertama kali, melihat mangsa alamiahku yang aku cintai. Entah ini sebuah kesalahan atau tidak, yang pasti semua telah terjadi dan berlalu dengan kematian seekor Singa dominan yang aku bunuh karena ingin menyelamatkannya. Ketika itu dia pun langsung pergi menjauh hingga ujung mata ini, tanpa sedikit pun mengucapkan kata-kata padaku.
Setidakanya kata “terima kasih”.
Mangsa yang seharusnya menjadi makan malamku, justru ini menjadi Matahari di tengah malamku yang sepi dan dingin. Seekor anak Domba yang anggun, putih, indah dan mempesona, yang hampir di setiap harinya aku tunggu. Sampai aku tidak bisa menahan monster dalam diriku yang ingin memangsanya, atau sampai aku tidak bisa bernafas lagi karena renta menunggunya.
Di Padang Rumput ini...
Aku menunggunya di balik pohon yang rindang melihatnya memakan rumput yang hijau dengan mulutnya yang mungil, berbeda dengan keadaanku terutama apa yang ada di balik mulut ini, gigi dan sepasang taring yang tajam, yang dapat merobek apa pun yang ada di dalamnya.
Nahh..itu dia..
Dia sudah muncul untuk menikmati sarapannya pagi ini. Rumput segar yang disediakan oleh alam.
Ohh..cinta ..bersabarlah..
Banyak sekali Domba-domba jantan yang besar dan bersih mendekati dan menggodanya. Andai aku tidak bisa menahan monster dalam diriku ini sudah ku bantai habis Domba-domba yang mendekatinya itu.
Ku nikmati seluruh rindu yang membunuhku di malam hari untuknya, dan berharap dia memang terlahir untukku. Akan ku hancurkan takdirku sebagai seekor Singa, jika memang itu bisa membuatnya mencintaiku.
Itulah janjiku seumur hidup...
Angin di padang ini cukup kencang sehingga aku bisa mencium aromanya yang menggiurkan, menggigit lehernya dan memakan isi perutnya. Tapi, bukan itu yang selalu ingin ku lakukan padanya.
Aku hanya..
Hanya ingin melindunginya, menjaganya, selalu bersamanya dan selalu mencintainya. Walau itu tidak mungkin terjadi tapi aku akan tetap selalu mengawasinya dan melindunginya dari apapun.
Karena hanya itulah yang mungkin bisa kulakukan untuk makhluk yang aku cintai, aku tidak mungkin bisa dicintai olehnya, memiliknya dan hidup bersamanya. Semoga saja dia bisa mendapatkan yang terbaik dari apa yang dia pilih nanti.
Itulah do’aku untuknya...
Ouww Tidak Dia Melihat ke Arahku...
Apa yang harus kulakukan?? Ku lihat di kiri dan kanan di tempatku ku berada sekarang dan ternyata, aku baru sadar. Tempatku bersembunyi untuk memerhatikannya jaraknya memang tidak terlalu jauh dari tempat dia dan kawanannya.
“Oukeeyy, Arthas tenang..tenang..santai saja belum tentu dia melihat ke arahku”. Kataku di dalam hati untuk menenangkan diriku.
Namun sepertinya lebih dari itu, dia bukan saja melihatku..tapi mulai berjalan ke arahku, ke tempatku bersembunyi untuk selalu melihatnya untuk mengobati rasa rinduku terhadapnya.
Skiv..skiv..skiv...Perlahan-lahan aku mendengar suara langkah kakinya mendekatiku, apa yang harus kulakukan?? Jika aku keluar dari tempat persembunyianku secara tiba-tiba tentu itu akan membuat terkejut dia dan kawanannya, dan seperti sifat alamiah Domba yang melihat pemangsanya. Dia akan berlari menjauh tanpa henti, dan akan semakin menjauh lagi. Sehingga membuat hati ini menanti dan kesepian lagi.
Tidak ada yang bisa kulakukan, aroma lezat dirinya sudah semakin dekat dan kian pekat di hidungku. Sampai-sampai membuat kerongkongan ini terbakar karena ingin disiram oleh aliran darahnya yang segar.
Aku berpikir untuk secepatnya berlari juga percuma, saat ini dia sudah berdiri tepat di hadapanku. Tidak ada yang bisa kulakukan, selain tetap berdiam dengan tenang meskipun ku paksakan.
Lalu menutup wajah dengan tanganku...
agar dia tidak terkejut dan takut ketika melihatku.
Aku menunggu reaksinya..dan masih menunggu reaksinya itu..
Teriakannya pada kawanannya dan lari ketakutannya ketika melihat ada seekor Singa di sekitarnya. Namun, apa yang ku pikirkan tentangnya ternyata salah. Dia tidak meneriakiku dengan Singa yang lapar, dan tidak lari dengan do’a supaya tidak menjadi makan malamku. Dia malah menyapaku dan berkata.
“Hei aku Lucy sedang apa kau di situ”?
Aku tersentak dan mulai membuka tangan dan mataku, melihat dia yang berada di depanku. Aku mulai berdiri dari tempat persembunyianku, dan terlihatlah wujud tubuh ini. Wujud Singa yang menakuti semua kawanan Domba itu, tapi berbeda dengannya.
Dia tidak berlari kabur ketakutan, dia tetap diam ditempatnya sambil memandangku.
“Kau tidak berlari seperti teman-temamnu itu”? tanyaku.
Dia tersenyum dan menjawab pertanyaanku yang aku ucapkan secara perlahan dan hati-hati agar gigiku yang tajam tidak terlihat olehnya.
“Untuk apa aku takut dengan makhluk yang menyelamatkan hidupku. Kau Singa yang menolongku dulu kan?”
Tubuhku gemetar mendengar kata-kata itu.
“Ternyata kau masih ingat denganku, lalu mengapa pada saat itu kau berlari?”
“Aku berlari, karena itulah naluri alamiahku terhadap dua pemangsa yang ada di dekatku”
Jawabannya cukup membuatku tenang, jawaban yang cukup banyak aku harapakan keluar dari dalam hatinya.
“Lalu mengapa kau sekarang tidak berlari lagi. Bukankah aku ini juga pemangsa yang kau lihat dulu?”
“Aku punya keyakinan dalam diriku terhadapmu. karena pada saat dulu. Berdua saja kau tidak memangsaku, malah menyelamatkanku. Apalagi jika kau sendirian seperti ini.”
“Seberapa besar keyakinanmu itu?” tanyaku kembali.
“Cukup besar untuk membuatmu mempercayaiku?” Jawabnya dengan keanggunan yang dia punya.
“Dengan cara apa?? Dengan cara apa kau bisa membuatku mempercayaimu...Gaarrgghhuumm..”. tanyaku dengan nada keras dan auman khas Raja hutan yang membuat semua burung-burung yang ada di atas berterbangan, hanya untuk mencoba menguji dirinya.
“Apakah keberanianku tetap ada di dekatmu setelah perlakuanmu itu, kurang bisa membuatmu yakin?” Tanya dia kembali padaku.
Aku menatapanya dengan perasaan yang berkecamuk di diriku.
“Apa kau bodoh, apa kau tidak tahu siapa diriku? Aku bisa saja membunuh dan memakanmu dengan mudah”.
Aku mengucapkan itu dengan menatapnya dengan tajam. Namun bukannya takut dan pergi, dia malah nambah mendekat padaku, dan berkata.
“Lalu apakah yang kau lakukan dulu dengan menyelamatkanku, kau sebut itu pintar? Bukankah itu lebih aneh, seekor anak Domba yang tidak berdaya. Bukan dimakan oleh Singa yang gagah tapi malah berbalik diselamatkan olehnya, bahkan dengan membunuh Singa dominan lainnya?”
Aku pun terdiam dan perlahan-lahan duduk menatapnya.
“Aku juga tidak tahu. Mengapa aku lemah di depanmu, seolah-olah dirimu bisa menahan dorongan monster Iblis yang bersemayam dalam diri ini.”
“Hanya itu?” Tanya dia dengan ketus.
“Awalnya aku sangat ingin memakanmu, karena aromamu yang sangat menggiurkan. Aroma yang berbeda dengan Domba lainnya. Kebanyakan Domba mempunyai bau dedaunan lembat pada tubuhnya, itulah salah satu cara kami para Singa untuk mengenali dan memburu Domba. Namun kau berbeda, kau tidak mempunyai bau dedaunan lembab itu.
“Lalu, bau apa yang aku miliki?” tanyanya dengan ikut menjatuhkan diri dan duduk berhadapan denganku.
“Kau memiliki bau yang aku sukai. Kau memiliki bau embun pagi. Itulah yang membuamu istimewa bagiku dibanding Domba yang lainnya. Kau seperti obat penawar kelas tinggi yang bisa menahanku dari rasa lapar untuk membunuh. Dari ingin membunuh, menjadi ingin melindungimu.
“Seperti itukah aku, bagimu?”
“Mencintamu adalah alasan terbaik bagiku untuk terus memperbaiki diri, menyayangimu adalah sesuatu yang membuatku memenuhi takdirku sebagai makhluk hidup. Walaupun aku harus meninggalkan sebagian takdirku yang lain, hanya untuk bisa bersamamu.”
“Tak perlu kata untuk ungkapkan rasa. Karena lukisan Langit, sudah cukup untuk membaca matamu itu”. Jawabnya dengan menatap ke dalam mataku, yang ada hanya cerminan dirinya dalam mata itu.
"Apakah kau juga menantikan saat-saat seperti ini"?? Tanyaku
"Yaa"..Jawabnya dengan singkat.
“Sesederhana aku melupakan waktu, sesederhana itulah aku mulai mencintaimu.”
Tiap Harinya Terasa Lebih Indah...
Karena kehadirannya, ternyata tak perlu menjadi yang sempurna untuk hidup ini. Cukup dengan mencari dan menemukan seseorang yg bangga & bahagia memilikimu, serta melakukan apapun hanya untuk bersamamu. Itu akan membuat hidup ini menjadi sempurna dengan sendirinya.
Aku tidak menyalahkan Tuhan yang telah menciptakanku dalam keadaan ini. Karena, Tuhan juga telah menciptakan 100 bagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga seekor Singa bisa jatuh cinta pada seekor Domba.
“Yaa...Domba yang bodoh”. Jawabnya dengan suara yang halus, bahkan terasa lebih halus dari tiupan angin di bukit hijau ini.
Kami berdua duduk di bawah Langit yang cerah, dan udara yang sejuk ini. Duduk bersama untuk menghabiskan waktu kami yang mungkin akan terasa singkat.
“Setelah meninggalkan kawananku, aku tidak peduli mereka menyebutku lemah. Karena kaulah yang menguatkanku.” Kataku kepadanya.
“Aku pun sama denganmu, setelah meninggalkan kawananku. Aku tidak peduli mereka menyebutku bodoh, karena telah mencintai seekor Singa. Itu sama saja memberikan nyawa kepadanya. Namun bagiku, sebanyak apapun nyawa seperti ini akan aku berikan.” Serunya dengan kelembutan.
Kita telah melewati semua masa itu, penolakan dan penghinaan bukanlah hal yang baru untuk kita...
“Ada tiga hal yang aku tahu dalam sisa kehidupanku ini.” Kataku
“Ohh, iyya..apa itu?” tanyanya.
“Pertama aku tidak bisa mengikari takdirku bahwa aku lahir sebagai seekor Singa pembunuh. Ke dua, aku tahu ada bagian dari dalam diriku yang sangat ingin memangsamu. Lalu, yang ke tiga aku tahu jika aku mencintaimu.”
“Begitu juga padaku, pertama. Aku tahu dirimu adalah seekor Singa pembunuh. Ke dua, aku tahu ada bagian dari dirimu yang begitu sangat ingin memangsaku. Lalu, yang ke tiga aku tahu kalau aku juga mencintaimu.”
Dan demi keyakinan ini..yang kita tahu cinta itu indah.
Selamat datang di kisah hari ini, setangkai keindahan alam sudah menyambut hati ini. Berdaun harapan, beranting usaha dan tumbuh bunga keinginan. Tidak sedetik pun tadi malam aku melupakan wajahnya. Aku menatap Langit dan berharap semoga aku tidak merusak harinya nanti.
Terlahir sebagai monster yang mengerikan membuatku cukup malu untuk memilikinya, setiap hari sama halnya dengan siksaan yang menyakitkan. Hanya bisa melihatnya berjalan dan menari di atas Bumi ini tanpa bisa dekat dan mengenalnya seperti yang aku harapkan.
Semoga monster dalam diriku hari ini tidak menakut-nakutinya, cukup sedih juga jika apa yang kita cintai takut dan berlari ketika melihat kita. Tapi mau bagaimana lagi inilah aku, yang terlahir sebagai seekor Singa yang gagah dan mengerikan di hutan yang indah ini.
Di sinilah aku menunggu dan melihatnya untuk yang pertama kali, melihat mangsa alamiahku yang aku cintai. Entah ini sebuah kesalahan atau tidak, yang pasti semua telah terjadi dan berlalu dengan kematian seekor Singa dominan yang aku bunuh karena ingin menyelamatkannya. Ketika itu dia pun langsung pergi menjauh hingga ujung mata ini, tanpa sedikit pun mengucapkan kata-kata padaku.
Setidakanya kata “terima kasih”.
Mangsa yang seharusnya menjadi makan malamku, justru ini menjadi Matahari di tengah malamku yang sepi dan dingin. Seekor anak Domba yang anggun, putih, indah dan mempesona, yang hampir di setiap harinya aku tunggu. Sampai aku tidak bisa menahan monster dalam diriku yang ingin memangsanya, atau sampai aku tidak bisa bernafas lagi karena renta menunggunya.
Di Padang Rumput ini...
Aku menunggunya di balik pohon yang rindang melihatnya memakan rumput yang hijau dengan mulutnya yang mungil, berbeda dengan keadaanku terutama apa yang ada di balik mulut ini, gigi dan sepasang taring yang tajam, yang dapat merobek apa pun yang ada di dalamnya.
Nahh..itu dia..
Dia sudah muncul untuk menikmati sarapannya pagi ini. Rumput segar yang disediakan oleh alam.
Ohh..cinta ..bersabarlah..
Banyak sekali Domba-domba jantan yang besar dan bersih mendekati dan menggodanya. Andai aku tidak bisa menahan monster dalam diriku ini sudah ku bantai habis Domba-domba yang mendekatinya itu.
Ku nikmati seluruh rindu yang membunuhku di malam hari untuknya, dan berharap dia memang terlahir untukku. Akan ku hancurkan takdirku sebagai seekor Singa, jika memang itu bisa membuatnya mencintaiku.
Itulah janjiku seumur hidup...
Angin di padang ini cukup kencang sehingga aku bisa mencium aromanya yang menggiurkan, menggigit lehernya dan memakan isi perutnya. Tapi, bukan itu yang selalu ingin ku lakukan padanya.
Aku hanya..
Hanya ingin melindunginya, menjaganya, selalu bersamanya dan selalu mencintainya. Walau itu tidak mungkin terjadi tapi aku akan tetap selalu mengawasinya dan melindunginya dari apapun.
Karena hanya itulah yang mungkin bisa kulakukan untuk makhluk yang aku cintai, aku tidak mungkin bisa dicintai olehnya, memiliknya dan hidup bersamanya. Semoga saja dia bisa mendapatkan yang terbaik dari apa yang dia pilih nanti.
Itulah do’aku untuknya...
Ouww Tidak Dia Melihat ke Arahku...
Apa yang harus kulakukan?? Ku lihat di kiri dan kanan di tempatku ku berada sekarang dan ternyata, aku baru sadar. Tempatku bersembunyi untuk memerhatikannya jaraknya memang tidak terlalu jauh dari tempat dia dan kawanannya.
“Oukeeyy, Arthas tenang..tenang..santai saja belum tentu dia melihat ke arahku”. Kataku di dalam hati untuk menenangkan diriku.
Namun sepertinya lebih dari itu, dia bukan saja melihatku..tapi mulai berjalan ke arahku, ke tempatku bersembunyi untuk selalu melihatnya untuk mengobati rasa rinduku terhadapnya.
Skiv..skiv..skiv...Perlahan-lahan aku mendengar suara langkah kakinya mendekatiku, apa yang harus kulakukan?? Jika aku keluar dari tempat persembunyianku secara tiba-tiba tentu itu akan membuat terkejut dia dan kawanannya, dan seperti sifat alamiah Domba yang melihat pemangsanya. Dia akan berlari menjauh tanpa henti, dan akan semakin menjauh lagi. Sehingga membuat hati ini menanti dan kesepian lagi.
Tidak ada yang bisa kulakukan, aroma lezat dirinya sudah semakin dekat dan kian pekat di hidungku. Sampai-sampai membuat kerongkongan ini terbakar karena ingin disiram oleh aliran darahnya yang segar.
Aku berpikir untuk secepatnya berlari juga percuma, saat ini dia sudah berdiri tepat di hadapanku. Tidak ada yang bisa kulakukan, selain tetap berdiam dengan tenang meskipun ku paksakan.
Lalu menutup wajah dengan tanganku...
agar dia tidak terkejut dan takut ketika melihatku.
Aku menunggu reaksinya..dan masih menunggu reaksinya itu..
Teriakannya pada kawanannya dan lari ketakutannya ketika melihat ada seekor Singa di sekitarnya. Namun, apa yang ku pikirkan tentangnya ternyata salah. Dia tidak meneriakiku dengan Singa yang lapar, dan tidak lari dengan do’a supaya tidak menjadi makan malamku. Dia malah menyapaku dan berkata.
“Hei aku Lucy sedang apa kau di situ”?
Aku tersentak dan mulai membuka tangan dan mataku, melihat dia yang berada di depanku. Aku mulai berdiri dari tempat persembunyianku, dan terlihatlah wujud tubuh ini. Wujud Singa yang menakuti semua kawanan Domba itu, tapi berbeda dengannya.
Dia tidak berlari kabur ketakutan, dia tetap diam ditempatnya sambil memandangku.
“Kau tidak berlari seperti teman-temamnu itu”? tanyaku.
Dia tersenyum dan menjawab pertanyaanku yang aku ucapkan secara perlahan dan hati-hati agar gigiku yang tajam tidak terlihat olehnya.
“Untuk apa aku takut dengan makhluk yang menyelamatkan hidupku. Kau Singa yang menolongku dulu kan?”
Tubuhku gemetar mendengar kata-kata itu.
“Ternyata kau masih ingat denganku, lalu mengapa pada saat itu kau berlari?”
“Aku berlari, karena itulah naluri alamiahku terhadap dua pemangsa yang ada di dekatku”
Jawabannya cukup membuatku tenang, jawaban yang cukup banyak aku harapakan keluar dari dalam hatinya.
“Lalu mengapa kau sekarang tidak berlari lagi. Bukankah aku ini juga pemangsa yang kau lihat dulu?”
“Aku punya keyakinan dalam diriku terhadapmu. karena pada saat dulu. Berdua saja kau tidak memangsaku, malah menyelamatkanku. Apalagi jika kau sendirian seperti ini.”
“Seberapa besar keyakinanmu itu?” tanyaku kembali.
“Cukup besar untuk membuatmu mempercayaiku?” Jawabnya dengan keanggunan yang dia punya.
“Dengan cara apa?? Dengan cara apa kau bisa membuatku mempercayaimu...Gaarrgghhuumm..”. tanyaku dengan nada keras dan auman khas Raja hutan yang membuat semua burung-burung yang ada di atas berterbangan, hanya untuk mencoba menguji dirinya.
“Apakah keberanianku tetap ada di dekatmu setelah perlakuanmu itu, kurang bisa membuatmu yakin?” Tanya dia kembali padaku.
Aku menatapanya dengan perasaan yang berkecamuk di diriku.
“Apa kau bodoh, apa kau tidak tahu siapa diriku? Aku bisa saja membunuh dan memakanmu dengan mudah”.
Aku mengucapkan itu dengan menatapnya dengan tajam. Namun bukannya takut dan pergi, dia malah nambah mendekat padaku, dan berkata.
“Lalu apakah yang kau lakukan dulu dengan menyelamatkanku, kau sebut itu pintar? Bukankah itu lebih aneh, seekor anak Domba yang tidak berdaya. Bukan dimakan oleh Singa yang gagah tapi malah berbalik diselamatkan olehnya, bahkan dengan membunuh Singa dominan lainnya?”
Aku pun terdiam dan perlahan-lahan duduk menatapnya.
“Aku juga tidak tahu. Mengapa aku lemah di depanmu, seolah-olah dirimu bisa menahan dorongan monster Iblis yang bersemayam dalam diri ini.”
“Hanya itu?” Tanya dia dengan ketus.
“Awalnya aku sangat ingin memakanmu, karena aromamu yang sangat menggiurkan. Aroma yang berbeda dengan Domba lainnya. Kebanyakan Domba mempunyai bau dedaunan lembat pada tubuhnya, itulah salah satu cara kami para Singa untuk mengenali dan memburu Domba. Namun kau berbeda, kau tidak mempunyai bau dedaunan lembab itu.
“Lalu, bau apa yang aku miliki?” tanyanya dengan ikut menjatuhkan diri dan duduk berhadapan denganku.
“Kau memiliki bau yang aku sukai. Kau memiliki bau embun pagi. Itulah yang membuamu istimewa bagiku dibanding Domba yang lainnya. Kau seperti obat penawar kelas tinggi yang bisa menahanku dari rasa lapar untuk membunuh. Dari ingin membunuh, menjadi ingin melindungimu.
“Seperti itukah aku, bagimu?”
“Mencintamu adalah alasan terbaik bagiku untuk terus memperbaiki diri, menyayangimu adalah sesuatu yang membuatku memenuhi takdirku sebagai makhluk hidup. Walaupun aku harus meninggalkan sebagian takdirku yang lain, hanya untuk bisa bersamamu.”
“Tak perlu kata untuk ungkapkan rasa. Karena lukisan Langit, sudah cukup untuk membaca matamu itu”. Jawabnya dengan menatap ke dalam mataku, yang ada hanya cerminan dirinya dalam mata itu.
"Apakah kau juga menantikan saat-saat seperti ini"?? Tanyaku
"Yaa"..Jawabnya dengan singkat.
“Sesederhana aku melupakan waktu, sesederhana itulah aku mulai mencintaimu.”
Tiap Harinya Terasa Lebih Indah...
Karena kehadirannya, ternyata tak perlu menjadi yang sempurna untuk hidup ini. Cukup dengan mencari dan menemukan seseorang yg bangga & bahagia memilikimu, serta melakukan apapun hanya untuk bersamamu. Itu akan membuat hidup ini menjadi sempurna dengan sendirinya.
Aku tidak menyalahkan Tuhan yang telah menciptakanku dalam keadaan ini. Karena, Tuhan juga telah menciptakan 100 bagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga seekor Singa bisa jatuh cinta pada seekor Domba.
“Yaa...Domba yang bodoh”. Jawabnya dengan suara yang halus, bahkan terasa lebih halus dari tiupan angin di bukit hijau ini.
Kami berdua duduk di bawah Langit yang cerah, dan udara yang sejuk ini. Duduk bersama untuk menghabiskan waktu kami yang mungkin akan terasa singkat.
“Setelah meninggalkan kawananku, aku tidak peduli mereka menyebutku lemah. Karena kaulah yang menguatkanku.” Kataku kepadanya.
“Aku pun sama denganmu, setelah meninggalkan kawananku. Aku tidak peduli mereka menyebutku bodoh, karena telah mencintai seekor Singa. Itu sama saja memberikan nyawa kepadanya. Namun bagiku, sebanyak apapun nyawa seperti ini akan aku berikan.” Serunya dengan kelembutan.
Kita telah melewati semua masa itu, penolakan dan penghinaan bukanlah hal yang baru untuk kita...
“Ada tiga hal yang aku tahu dalam sisa kehidupanku ini.” Kataku
“Ohh, iyya..apa itu?” tanyanya.
“Pertama aku tidak bisa mengikari takdirku bahwa aku lahir sebagai seekor Singa pembunuh. Ke dua, aku tahu ada bagian dari dalam diriku yang sangat ingin memangsamu. Lalu, yang ke tiga aku tahu jika aku mencintaimu.”
“Begitu juga padaku, pertama. Aku tahu dirimu adalah seekor Singa pembunuh. Ke dua, aku tahu ada bagian dari dirimu yang begitu sangat ingin memangsaku. Lalu, yang ke tiga aku tahu kalau aku juga mencintaimu.”
Dan demi keyakinan ini..yang kita tahu cinta itu indah.
Sabtu, 17 Desember 2011
KEBENARAN YANG SESUNGGUHNYA TENTANG MANUSIA
Para ahli Psikologi dan Psikiatri telah berulang kali menunjukkan bahwa orang yang paling sulit dievaluasi secara objektif adalah dirinya sendiri. Kita semua pasti pernah mengenal orang pandai yang berpikir dirinya bodoh, orang rupawan yang membayangkan dirinya jelek, dan orang yang terus menerus merendahkan dirinya, menganggap semua keberhasilannya sebagai kegagalan. Semua itu adalah konsep tentang diri sendiri yang tidak benar dan hanya khayalan negatif tentang kegagalan dalam diri kita sendiri. Konsep tentang diri yang seperti itulah yang membuat kita lemah, yang membuat kita menyerah sebelum “bertarung”. Lalu apa yang harus kita ubah jika kita, atau orang-orang terdekat kita mengalami hal seperti itu?
Yang dapat kita ubah adalah konsep pikiran tentang dirinya sendiri dalam menjalani hidup. Manusia hidup dan bertingkah laku sesuai dengan persepsi dan keyakinan tentang apa yang menurutnya benar tentang dirinya dan lingkungannya, walaupun terkadang penilaian tentang “kebenaran” itu bersifat subjektif. Konsep diri tidak dapat begitu saja berubah, karena sudah tertanam dari pengalaman masa lalu dan mempengaruhi masa kini dan masa depan.
Kebenaran tentang diri yang sesungguhnya terletak pada pemikiran kita tentang manusia macam apakah diri kita itu. Apakah kita tipe orang gagal atau orang sukses, semuanya tergantung dari kita sendiri. Kita sendirilah yang menanam pikiran-pikiran negatif maupun positif ke dalam semua tindakan yang akan kita lakukan, dan hasilnya tergantung dari apa yang kita “bisikan” kepada diri kita. Jika kita membisikkan tentang kesuksesan maka kita akan mendapatkan hasil yang baik, dan jika kita membisikkan tentang kegagalan maka kita akan mendapatkan hasil yang buruk, dan itu bisa bersifat abadi. Karena ada pula yang sebaliknya, ada yang membisikkan kesuksesan terhadapa dirinya tapi kegagalan yang dia dapat. Tapi tenang saja karena itu bersifat sementara. Itu semua tergantung dari apa yang di pikirkan, diperbuat, serta usahanya dalam meraih kesuksesan.
Kebenaran yang sesungguhnya tentang manusia adalah bahwa serendah apapun kita, kita pasti punya sesuatu yang bisa ditawarkan untuk Dunia. Hanya pikiran negatif yang bernama kekhawatiran dan kegagalanlah yang membuat kita kalah dan yang membuat kita merasa sendirian, serta merasa tidak layak ada di Dunia ini. Kita adalah manusia, seorang duta yang diciptakan ALLAH untuk menjaga dan menjadi penengah bagi makhluk-makhluk yang diciptakan oleh ALLAH. Semua hal yang kita pikirkan dan lakukan haruslah yang berarti dan bermanfaat bagi semua. Oleh karena itu jagalah pikiran kita agar tetap menghasilkan pikiran positif sehingga apa yang kita perbuat juga positif yang berarti, itu adalah keberhasilan untuk diri kita sendiri.
Yang dapat kita ubah adalah konsep pikiran tentang dirinya sendiri dalam menjalani hidup. Manusia hidup dan bertingkah laku sesuai dengan persepsi dan keyakinan tentang apa yang menurutnya benar tentang dirinya dan lingkungannya, walaupun terkadang penilaian tentang “kebenaran” itu bersifat subjektif. Konsep diri tidak dapat begitu saja berubah, karena sudah tertanam dari pengalaman masa lalu dan mempengaruhi masa kini dan masa depan.
Kebenaran tentang diri yang sesungguhnya terletak pada pemikiran kita tentang manusia macam apakah diri kita itu. Apakah kita tipe orang gagal atau orang sukses, semuanya tergantung dari kita sendiri. Kita sendirilah yang menanam pikiran-pikiran negatif maupun positif ke dalam semua tindakan yang akan kita lakukan, dan hasilnya tergantung dari apa yang kita “bisikan” kepada diri kita. Jika kita membisikkan tentang kesuksesan maka kita akan mendapatkan hasil yang baik, dan jika kita membisikkan tentang kegagalan maka kita akan mendapatkan hasil yang buruk, dan itu bisa bersifat abadi. Karena ada pula yang sebaliknya, ada yang membisikkan kesuksesan terhadapa dirinya tapi kegagalan yang dia dapat. Tapi tenang saja karena itu bersifat sementara. Itu semua tergantung dari apa yang di pikirkan, diperbuat, serta usahanya dalam meraih kesuksesan.
Kebenaran yang sesungguhnya tentang manusia adalah bahwa serendah apapun kita, kita pasti punya sesuatu yang bisa ditawarkan untuk Dunia. Hanya pikiran negatif yang bernama kekhawatiran dan kegagalanlah yang membuat kita kalah dan yang membuat kita merasa sendirian, serta merasa tidak layak ada di Dunia ini. Kita adalah manusia, seorang duta yang diciptakan ALLAH untuk menjaga dan menjadi penengah bagi makhluk-makhluk yang diciptakan oleh ALLAH. Semua hal yang kita pikirkan dan lakukan haruslah yang berarti dan bermanfaat bagi semua. Oleh karena itu jagalah pikiran kita agar tetap menghasilkan pikiran positif sehingga apa yang kita perbuat juga positif yang berarti, itu adalah keberhasilan untuk diri kita sendiri.
YANG KITA LAKUKAN ADA BATASNYA
Kita sering menjadi musuh kita sendiri yang paling berbahaya dan mungkin sulit untuk ditaklukkan. Banyak orang yang terus memaksa diri, terus mendorong dirinya secara lebih keras untuk beberapa hal yang ingin dicapai. Seperti contoh, mungkin mereka mempertimbangkan bahwa dalam hidup yang serba cepat ini orang harus memacu diri, berusaha mendapat uang sebanyak-banyaknya untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi sesungguhnya mereka hanya merusak diri sendiri. Kerap kali mereka juga merongrong apa yang mereka anggap tujuan yang harus dicapai. Lebih-lebih, mereka mengaburkan garis besar citra dirinya sendiri.
Untuk bisa menikmati hidup, kita harus tahu batas-batas yang ada pada diri kita sendiri, tahu kapan harus memulai, tahu kapan harus berhenti, tahu kapan harus bermain-main sedikit, dan tahu harus kapan untuk memulainya lagi. Kalau ada tanggung jawab yang ada pada diri kita menuntut kita, kita harus tahu kapan harus mencari pelepasan dan bagaimana cara untuk mendapatkannya lagi.
Kita harus menyadari bahwa kita hanyalah manusia, bukan seluruh organisasi atau sebuah angkatan perang, dan apa yang bisa kita lakukan ada batasnya. Jangan mengharapkan yang mustahil dan bersifat khayalan belaka dari diri kita!
Kadang-kadang keadaan memaksa kita untuk melakukan sesuatu yang melampaui batas, dan dalam satu kesempatan itu mereka jadi tegang dan merasa kesal.
Pada waktu seperti lebih baik meledak, meletupkan kemarahan ke luar seperti air yang membanjiri bendungan. Tetap menyimpannya dalam hati akan menyebabkan jaringan tubuh diracuninya, menyebabkan kita tidak bisa untuk istirahat yang tenang, bahkan untuk sejenak sekalipun. Tetapi semuanya itu harus ada batasnya, tidak menentang norma-norma yang ada, serta tidak merugikan orang lain.
Kenikmatan hidup ada pada saat kita benar-benar mengetahui apa yang kita lakukan dan apa manfaat serta hasil dari yang kita lakukan tersebut, dengan begitu kita akan merasa ikhlas dan tanpa beban dalam melakukannya.
Referensi :
Maltz, M. M.D., F.I.C.S. (1992). Kekuatan ajaib psikologi citra diri. Jakarta : Mitra Utama
Untuk bisa menikmati hidup, kita harus tahu batas-batas yang ada pada diri kita sendiri, tahu kapan harus memulai, tahu kapan harus berhenti, tahu kapan harus bermain-main sedikit, dan tahu harus kapan untuk memulainya lagi. Kalau ada tanggung jawab yang ada pada diri kita menuntut kita, kita harus tahu kapan harus mencari pelepasan dan bagaimana cara untuk mendapatkannya lagi.
Kita harus menyadari bahwa kita hanyalah manusia, bukan seluruh organisasi atau sebuah angkatan perang, dan apa yang bisa kita lakukan ada batasnya. Jangan mengharapkan yang mustahil dan bersifat khayalan belaka dari diri kita!
Kadang-kadang keadaan memaksa kita untuk melakukan sesuatu yang melampaui batas, dan dalam satu kesempatan itu mereka jadi tegang dan merasa kesal.
Pada waktu seperti lebih baik meledak, meletupkan kemarahan ke luar seperti air yang membanjiri bendungan. Tetap menyimpannya dalam hati akan menyebabkan jaringan tubuh diracuninya, menyebabkan kita tidak bisa untuk istirahat yang tenang, bahkan untuk sejenak sekalipun. Tetapi semuanya itu harus ada batasnya, tidak menentang norma-norma yang ada, serta tidak merugikan orang lain.
Kenikmatan hidup ada pada saat kita benar-benar mengetahui apa yang kita lakukan dan apa manfaat serta hasil dari yang kita lakukan tersebut, dengan begitu kita akan merasa ikhlas dan tanpa beban dalam melakukannya.
Referensi :
Maltz, M. M.D., F.I.C.S. (1992). Kekuatan ajaib psikologi citra diri. Jakarta : Mitra Utama
TERIMALAH KELEMAHAN DIRI SENDIRI DAN JADILAH KUAT
Segala sesuatu yang ada pada diri seseorang dalam pergaulannya pasti berasal dari rumah atau lebih tepatnya keluarga. Misalnya adalah kasih-sayang, kita tidak bisa berbelas kasihan kepada orang lain pada saat yang sama ketika kita kejam pada diri sendiri. Karena kalau kita kejam kepada diri sendiri, maka belas kasihan kita kepada orang lain hanya semu atau hanya kepura-puraan belaka.
Banyak diantara kita yang kejam terhadap diri sendiri, kita suka mencela dan menghukum diri sendiri hanya karena kesalahan yang bahkan bisa dimaafkan oleh Dewa dan Tuhan sekalipun. Kita sering menyalahkan diri sendiri karena kekurangan dan kelemahan kita, kita tidak menyukai apa yang kita lihat di cermin pada saat kita menghadapkan pandangan kita di cermin, kita tidak pernah puas dengan apa yang telah kita punya dan kita capai, kita selalu menyesal karena kita tidak mempunyai apa yang di punya oleh orang lain, dan kita mengatakan kepada diri sendiri bahwa kita lemah dan karena itu kita membeci diri kita sendiri.
Kenyataannya kita semua memang lemah dan yang kita lakukan ada batasnya, dan itu bukan hal yang mengerikan. “Orang yang bijaksana menjadi lebih kuat oleh kelemahannya,” tulis Edmund Waller, seorang penyair Inggris dari abad ke-17, dan kata-katanya masih menyerukan kebenaran pada zaman sekarang (Maltz, 1992).
Kita bukan Nabi, Dewa, dan kita juga bukan robot. Kita semua hanyalah manusia, sedangkan Nabi walaupun mereka manusia, tapi mereka adalah manusia yang di istimewakan. Sedangkan kita hanyalah manusia dari keturunan manusia pula, kita semua adalah makhluk ciptaan Tuhan yang tidak bisa melawan kesalahan dan dosa, kita hanya bisa memperbaiki kesalahan dan menghapus dosa.
Sebagai makhluk yang berakal, manusia pasti mempunyai perasaan untuk merasakan berbagai perasaan yang terjadi pada masa di mana ia hidup. Masa di mana kita senang, sedih, membenci, kasih sayang, cinta, keputusasaan dan lain sebagainya. Dari semua masa itu ada satu hal di mana, hal tersebut menjadi sesuatu yang menakutkan bagi kita, yaitu kesulitan. Kata itu adalah permulaan dari berbagai perasaan negatif yang muncul pada diri kita, yang bentuk dan wujudnya berbagai macam menyerupai apa yang kita dapat dan alami pada saat itu. Tapi, apakah kita tahu awalnya kesulitan itu dimulai? Apakah kesulitan di mulai pada saat kita dihadapkan pada suatu pekerjaan atau aktivitas di mana kita tidak mempunyai pengetahuan dan pengalaman pada aktivitas tersebut? Sebagian besar pernyataan di atas pasti bisa di bilang benar, tapi kesulitan yang sesungguhnya dimulai ketika kita membenci diri sendiri untuk kelemahan kita. Kebencian kepada diri sendiri inilah yang merusak kita dari dalam, yang mengalahkan kita sebelum kita mulai bergerak maju untuk “bertarung”.
Yang membuat kita membenci diri sendiri untuk kelemahan kita adalah harapan yang kita patok kepada diri sendiri tidak realistis dan hanya bersifat nafsu. Hawa nafsu memerintahkan kita untuk berangan-angan dan menghayal, tetapi akal menyuruh kita menimbang-nimbang antara kemampuan dan kehidupan nyata seperti apa yang sedang kita jalani. Sungguh benar-benar kasihan orang-orang yang menjadikan kelemahannya sebagai bagian dari cerita hidupnya, yang hanya bisa mengaharapkan keajaiban datang hadir di pundaknya. Hanya bisa berpura-pura menjadi kuat, hebat, dan berkuasa di dalam cangkang khayalannya sendiri.
Yaaaa….kita semua memang manusia yang mempunyai kelemahan pada diri kita masing-masing, tetapi kelemahan itu bukan hal yang mengerikan, kelemahan bukanklah kutukan jika kita mau menerimanya dan menjadikannya motivasi atau kekuatan kita untuk menjadi yang lebih baik dalam Dunia nyata yang keras dan penuh perjuangan ini.
Refernsi :
Maltz, M. M.D., F.I.C.S. (1992). Kekuatan ajaib psikologi citra diri. Jakarta : Mitra Utama
Banyak diantara kita yang kejam terhadap diri sendiri, kita suka mencela dan menghukum diri sendiri hanya karena kesalahan yang bahkan bisa dimaafkan oleh Dewa dan Tuhan sekalipun. Kita sering menyalahkan diri sendiri karena kekurangan dan kelemahan kita, kita tidak menyukai apa yang kita lihat di cermin pada saat kita menghadapkan pandangan kita di cermin, kita tidak pernah puas dengan apa yang telah kita punya dan kita capai, kita selalu menyesal karena kita tidak mempunyai apa yang di punya oleh orang lain, dan kita mengatakan kepada diri sendiri bahwa kita lemah dan karena itu kita membeci diri kita sendiri.
Kenyataannya kita semua memang lemah dan yang kita lakukan ada batasnya, dan itu bukan hal yang mengerikan. “Orang yang bijaksana menjadi lebih kuat oleh kelemahannya,” tulis Edmund Waller, seorang penyair Inggris dari abad ke-17, dan kata-katanya masih menyerukan kebenaran pada zaman sekarang (Maltz, 1992).
Kita bukan Nabi, Dewa, dan kita juga bukan robot. Kita semua hanyalah manusia, sedangkan Nabi walaupun mereka manusia, tapi mereka adalah manusia yang di istimewakan. Sedangkan kita hanyalah manusia dari keturunan manusia pula, kita semua adalah makhluk ciptaan Tuhan yang tidak bisa melawan kesalahan dan dosa, kita hanya bisa memperbaiki kesalahan dan menghapus dosa.
Sebagai makhluk yang berakal, manusia pasti mempunyai perasaan untuk merasakan berbagai perasaan yang terjadi pada masa di mana ia hidup. Masa di mana kita senang, sedih, membenci, kasih sayang, cinta, keputusasaan dan lain sebagainya. Dari semua masa itu ada satu hal di mana, hal tersebut menjadi sesuatu yang menakutkan bagi kita, yaitu kesulitan. Kata itu adalah permulaan dari berbagai perasaan negatif yang muncul pada diri kita, yang bentuk dan wujudnya berbagai macam menyerupai apa yang kita dapat dan alami pada saat itu. Tapi, apakah kita tahu awalnya kesulitan itu dimulai? Apakah kesulitan di mulai pada saat kita dihadapkan pada suatu pekerjaan atau aktivitas di mana kita tidak mempunyai pengetahuan dan pengalaman pada aktivitas tersebut? Sebagian besar pernyataan di atas pasti bisa di bilang benar, tapi kesulitan yang sesungguhnya dimulai ketika kita membenci diri sendiri untuk kelemahan kita. Kebencian kepada diri sendiri inilah yang merusak kita dari dalam, yang mengalahkan kita sebelum kita mulai bergerak maju untuk “bertarung”.
Yang membuat kita membenci diri sendiri untuk kelemahan kita adalah harapan yang kita patok kepada diri sendiri tidak realistis dan hanya bersifat nafsu. Hawa nafsu memerintahkan kita untuk berangan-angan dan menghayal, tetapi akal menyuruh kita menimbang-nimbang antara kemampuan dan kehidupan nyata seperti apa yang sedang kita jalani. Sungguh benar-benar kasihan orang-orang yang menjadikan kelemahannya sebagai bagian dari cerita hidupnya, yang hanya bisa mengaharapkan keajaiban datang hadir di pundaknya. Hanya bisa berpura-pura menjadi kuat, hebat, dan berkuasa di dalam cangkang khayalannya sendiri.
Yaaaa….kita semua memang manusia yang mempunyai kelemahan pada diri kita masing-masing, tetapi kelemahan itu bukan hal yang mengerikan, kelemahan bukanklah kutukan jika kita mau menerimanya dan menjadikannya motivasi atau kekuatan kita untuk menjadi yang lebih baik dalam Dunia nyata yang keras dan penuh perjuangan ini.
Refernsi :
Maltz, M. M.D., F.I.C.S. (1992). Kekuatan ajaib psikologi citra diri. Jakarta : Mitra Utama
Langganan:
Komentar (Atom)






