Selamat pagi...
Selamat datang di kisah hari ini, setangkai keindahan alam sudah menyambut hati ini. Berdaun harapan, beranting usaha dan tumbuh bunga keinginan. Tidak sedetik pun tadi malam aku melupakan wajahnya. Aku menatap Langit dan berharap semoga aku tidak merusak harinya nanti.
Terlahir sebagai monster yang mengerikan membuatku cukup malu untuk memilikinya, setiap hari sama halnya dengan siksaan yang menyakitkan. Hanya bisa melihatnya berjalan dan menari di atas Bumi ini tanpa bisa dekat dan mengenalnya seperti yang aku harapkan.
Semoga monster dalam diriku hari ini tidak menakut-nakutinya, cukup sedih juga jika apa yang kita cintai takut dan berlari ketika melihat kita. Tapi mau bagaimana lagi inilah aku, yang terlahir sebagai seekor Singa yang gagah dan mengerikan di hutan yang indah ini.
Di sinilah aku menunggu dan melihatnya untuk yang pertama kali, melihat mangsa alamiahku yang aku cintai. Entah ini sebuah kesalahan atau tidak, yang pasti semua telah terjadi dan berlalu dengan kematian seekor Singa dominan yang aku bunuh karena ingin menyelamatkannya. Ketika itu dia pun langsung pergi menjauh hingga ujung mata ini, tanpa sedikit pun mengucapkan kata-kata padaku.
Setidakanya kata “terima kasih”.
Mangsa yang seharusnya menjadi makan malamku, justru ini menjadi Matahari di tengah malamku yang sepi dan dingin. Seekor anak Domba yang anggun, putih, indah dan mempesona, yang hampir di setiap harinya aku tunggu. Sampai aku tidak bisa menahan monster dalam diriku yang ingin memangsanya, atau sampai aku tidak bisa bernafas lagi karena renta menunggunya.
Di Padang Rumput ini...
Aku menunggunya di balik pohon yang rindang melihatnya memakan rumput yang hijau dengan mulutnya yang mungil, berbeda dengan keadaanku terutama apa yang ada di balik mulut ini, gigi dan sepasang taring yang tajam, yang dapat merobek apa pun yang ada di dalamnya.
Nahh..itu dia..
Dia sudah muncul untuk menikmati sarapannya pagi ini. Rumput segar yang disediakan oleh alam.
Ohh..cinta ..bersabarlah..
Banyak sekali Domba-domba jantan yang besar dan bersih mendekati dan menggodanya. Andai aku tidak bisa menahan monster dalam diriku ini sudah ku bantai habis Domba-domba yang mendekatinya itu.
Ku nikmati seluruh rindu yang membunuhku di malam hari untuknya, dan berharap dia memang terlahir untukku. Akan ku hancurkan takdirku sebagai seekor Singa, jika memang itu bisa membuatnya mencintaiku.
Itulah janjiku seumur hidup...
Angin di padang ini cukup kencang sehingga aku bisa mencium aromanya yang menggiurkan, menggigit lehernya dan memakan isi perutnya. Tapi, bukan itu yang selalu ingin ku lakukan padanya.
Aku hanya..
Hanya ingin melindunginya, menjaganya, selalu bersamanya dan selalu mencintainya. Walau itu tidak mungkin terjadi tapi aku akan tetap selalu mengawasinya dan melindunginya dari apapun.
Karena hanya itulah yang mungkin bisa kulakukan untuk makhluk yang aku cintai, aku tidak mungkin bisa dicintai olehnya, memiliknya dan hidup bersamanya. Semoga saja dia bisa mendapatkan yang terbaik dari apa yang dia pilih nanti.
Itulah do’aku untuknya...
Ouww Tidak Dia Melihat ke Arahku...
Apa yang harus kulakukan?? Ku lihat di kiri dan kanan di tempatku ku berada sekarang dan ternyata, aku baru sadar. Tempatku bersembunyi untuk memerhatikannya jaraknya memang tidak terlalu jauh dari tempat dia dan kawanannya.
“Oukeeyy, Arthas tenang..tenang..santai saja belum tentu dia melihat ke arahku”. Kataku di dalam hati untuk menenangkan diriku.
Namun sepertinya lebih dari itu, dia bukan saja melihatku..tapi mulai berjalan ke arahku, ke tempatku bersembunyi untuk selalu melihatnya untuk mengobati rasa rinduku terhadapnya.
Skiv..skiv..skiv...Perlahan-lahan aku mendengar suara langkah kakinya mendekatiku, apa yang harus kulakukan?? Jika aku keluar dari tempat persembunyianku secara tiba-tiba tentu itu akan membuat terkejut dia dan kawanannya, dan seperti sifat alamiah Domba yang melihat pemangsanya. Dia akan berlari menjauh tanpa henti, dan akan semakin menjauh lagi. Sehingga membuat hati ini menanti dan kesepian lagi.
Tidak ada yang bisa kulakukan, aroma lezat dirinya sudah semakin dekat dan kian pekat di hidungku. Sampai-sampai membuat kerongkongan ini terbakar karena ingin disiram oleh aliran darahnya yang segar.
Aku berpikir untuk secepatnya berlari juga percuma, saat ini dia sudah berdiri tepat di hadapanku. Tidak ada yang bisa kulakukan, selain tetap berdiam dengan tenang meskipun ku paksakan.
Lalu menutup wajah dengan tanganku...
agar dia tidak terkejut dan takut ketika melihatku.
Aku menunggu reaksinya..dan masih menunggu reaksinya itu..
Teriakannya pada kawanannya dan lari ketakutannya ketika melihat ada seekor Singa di sekitarnya. Namun, apa yang ku pikirkan tentangnya ternyata salah. Dia tidak meneriakiku dengan Singa yang lapar, dan tidak lari dengan do’a supaya tidak menjadi makan malamku. Dia malah menyapaku dan berkata.
“Hei aku Lucy sedang apa kau di situ”?
Aku tersentak dan mulai membuka tangan dan mataku, melihat dia yang berada di depanku. Aku mulai berdiri dari tempat persembunyianku, dan terlihatlah wujud tubuh ini. Wujud Singa yang menakuti semua kawanan Domba itu, tapi berbeda dengannya.
Dia tidak berlari kabur ketakutan, dia tetap diam ditempatnya sambil memandangku.
“Kau tidak berlari seperti teman-temamnu itu”? tanyaku.
Dia tersenyum dan menjawab pertanyaanku yang aku ucapkan secara perlahan dan hati-hati agar gigiku yang tajam tidak terlihat olehnya.
“Untuk apa aku takut dengan makhluk yang menyelamatkan hidupku. Kau Singa yang menolongku dulu kan?”
Tubuhku gemetar mendengar kata-kata itu.
“Ternyata kau masih ingat denganku, lalu mengapa pada saat itu kau berlari?”
“Aku berlari, karena itulah naluri alamiahku terhadap dua pemangsa yang ada di dekatku”
Jawabannya cukup membuatku tenang, jawaban yang cukup banyak aku harapakan keluar dari dalam hatinya.
“Lalu mengapa kau sekarang tidak berlari lagi. Bukankah aku ini juga pemangsa yang kau lihat dulu?”
“Aku punya keyakinan dalam diriku terhadapmu. karena pada saat dulu. Berdua saja kau tidak memangsaku, malah menyelamatkanku. Apalagi jika kau sendirian seperti ini.”
“Seberapa besar keyakinanmu itu?” tanyaku kembali.
“Cukup besar untuk membuatmu mempercayaiku?” Jawabnya dengan keanggunan yang dia punya.
“Dengan cara apa?? Dengan cara apa kau bisa membuatku mempercayaimu...Gaarrgghhuumm..”. tanyaku dengan nada keras dan auman khas Raja hutan yang membuat semua burung-burung yang ada di atas berterbangan, hanya untuk mencoba menguji dirinya.
“Apakah keberanianku tetap ada di dekatmu setelah perlakuanmu itu, kurang bisa membuatmu yakin?” Tanya dia kembali padaku.
Aku menatapanya dengan perasaan yang berkecamuk di diriku.
“Apa kau bodoh, apa kau tidak tahu siapa diriku? Aku bisa saja membunuh dan memakanmu dengan mudah”.
Aku mengucapkan itu dengan menatapnya dengan tajam. Namun bukannya takut dan pergi, dia malah nambah mendekat padaku, dan berkata.
“Lalu apakah yang kau lakukan dulu dengan menyelamatkanku, kau sebut itu pintar? Bukankah itu lebih aneh, seekor anak Domba yang tidak berdaya. Bukan dimakan oleh Singa yang gagah tapi malah berbalik diselamatkan olehnya, bahkan dengan membunuh Singa dominan lainnya?”
Aku pun terdiam dan perlahan-lahan duduk menatapnya.
“Aku juga tidak tahu. Mengapa aku lemah di depanmu, seolah-olah dirimu bisa menahan dorongan monster Iblis yang bersemayam dalam diri ini.”
“Hanya itu?” Tanya dia dengan ketus.
“Awalnya aku sangat ingin memakanmu, karena aromamu yang sangat menggiurkan. Aroma yang berbeda dengan Domba lainnya. Kebanyakan Domba mempunyai bau dedaunan lembat pada tubuhnya, itulah salah satu cara kami para Singa untuk mengenali dan memburu Domba. Namun kau berbeda, kau tidak mempunyai bau dedaunan lembab itu.
“Lalu, bau apa yang aku miliki?” tanyanya dengan ikut menjatuhkan diri dan duduk berhadapan denganku.
“Kau memiliki bau yang aku sukai. Kau memiliki bau embun pagi. Itulah yang membuamu istimewa bagiku dibanding Domba yang lainnya. Kau seperti obat penawar kelas tinggi yang bisa menahanku dari rasa lapar untuk membunuh. Dari ingin membunuh, menjadi ingin melindungimu.
“Seperti itukah aku, bagimu?”
“Mencintamu adalah alasan terbaik bagiku untuk terus memperbaiki diri, menyayangimu adalah sesuatu yang membuatku memenuhi takdirku sebagai makhluk hidup. Walaupun aku harus meninggalkan sebagian takdirku yang lain, hanya untuk bisa bersamamu.”
“Tak perlu kata untuk ungkapkan rasa. Karena lukisan Langit, sudah cukup untuk membaca matamu itu”. Jawabnya dengan menatap ke dalam mataku, yang ada hanya cerminan dirinya dalam mata itu.
"Apakah kau juga menantikan saat-saat seperti ini"?? Tanyaku
"Yaa"..Jawabnya dengan singkat.
“Sesederhana aku melupakan waktu, sesederhana itulah aku mulai mencintaimu.”
Tiap Harinya Terasa Lebih Indah...
Karena kehadirannya, ternyata tak perlu menjadi yang sempurna untuk hidup ini. Cukup dengan mencari dan menemukan seseorang yg bangga & bahagia memilikimu, serta melakukan apapun hanya untuk bersamamu. Itu akan membuat hidup ini menjadi sempurna dengan sendirinya.
Aku tidak menyalahkan Tuhan yang telah menciptakanku dalam keadaan ini. Karena, Tuhan juga telah menciptakan 100 bagian kasih sayang. 99 disimpan disisinya dan hanya 1 bagian diturunkan ke dunia. Dengan kasih sayang yang satu bagian itulah, makhluk saling berkasih sayang sehingga seekor Singa bisa jatuh cinta pada seekor Domba.
“Yaa...Domba yang bodoh”. Jawabnya dengan suara yang halus, bahkan terasa lebih halus dari tiupan angin di bukit hijau ini.
Kami berdua duduk di bawah Langit yang cerah, dan udara yang sejuk ini. Duduk bersama untuk menghabiskan waktu kami yang mungkin akan terasa singkat.
“Setelah meninggalkan kawananku, aku tidak peduli mereka menyebutku lemah. Karena kaulah yang menguatkanku.” Kataku kepadanya.
“Aku pun sama denganmu, setelah meninggalkan kawananku. Aku tidak peduli mereka menyebutku bodoh, karena telah mencintai seekor Singa. Itu sama saja memberikan nyawa kepadanya. Namun bagiku, sebanyak apapun nyawa seperti ini akan aku berikan.” Serunya dengan kelembutan.
Kita telah melewati semua masa itu, penolakan dan penghinaan bukanlah hal yang baru untuk kita...
“Ada tiga hal yang aku tahu dalam sisa kehidupanku ini.” Kataku
“Ohh, iyya..apa itu?” tanyanya.
“Pertama aku tidak bisa mengikari takdirku bahwa aku lahir sebagai seekor Singa pembunuh. Ke dua, aku tahu ada bagian dari dalam diriku yang sangat ingin memangsamu. Lalu, yang ke tiga aku tahu jika aku mencintaimu.”
“Begitu juga padaku, pertama. Aku tahu dirimu adalah seekor Singa pembunuh. Ke dua, aku tahu ada bagian dari dirimu yang begitu sangat ingin memangsaku. Lalu, yang ke tiga aku tahu kalau aku juga mencintaimu.”
Dan demi keyakinan ini..yang kita tahu cinta itu indah.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar