Taman Mimpiku

Taman Mimpiku

Sabtu, 17 Desember 2011

TERIMALAH KELEMAHAN DIRI SENDIRI DAN JADILAH KUAT

Segala sesuatu yang ada pada diri seseorang dalam pergaulannya pasti berasal dari rumah atau lebih tepatnya keluarga. Misalnya adalah kasih-sayang, kita tidak bisa berbelas kasihan kepada orang lain pada saat yang sama ketika kita kejam pada diri sendiri. Karena kalau kita kejam kepada diri sendiri, maka belas kasihan kita kepada orang lain hanya semu atau hanya kepura-puraan belaka.

Banyak diantara kita yang kejam terhadap diri sendiri, kita suka mencela dan menghukum diri sendiri hanya karena kesalahan yang bahkan bisa dimaafkan oleh Dewa dan Tuhan sekalipun. Kita sering menyalahkan diri sendiri karena kekurangan dan kelemahan kita, kita tidak menyukai apa yang kita lihat di cermin pada saat kita menghadapkan pandangan kita di cermin, kita tidak pernah puas dengan apa yang telah kita punya dan kita capai, kita selalu menyesal karena kita tidak mempunyai apa yang di punya oleh orang lain, dan kita mengatakan kepada diri sendiri bahwa kita lemah dan karena itu kita membeci diri kita sendiri.

Kenyataannya kita semua memang lemah dan yang kita lakukan ada batasnya, dan itu bukan hal yang mengerikan. “Orang yang bijaksana menjadi lebih kuat oleh kelemahannya,” tulis Edmund Waller, seorang penyair Inggris dari abad ke-17, dan kata-katanya masih menyerukan kebenaran pada zaman sekarang (Maltz, 1992).
Kita bukan Nabi, Dewa, dan kita juga bukan robot. Kita semua hanyalah manusia, sedangkan Nabi walaupun mereka manusia, tapi mereka adalah manusia yang di istimewakan. Sedangkan kita hanyalah manusia dari keturunan manusia pula, kita semua adalah makhluk ciptaan Tuhan yang tidak bisa melawan kesalahan dan dosa, kita hanya bisa memperbaiki kesalahan dan menghapus dosa.

Sebagai makhluk yang berakal, manusia pasti mempunyai perasaan untuk merasakan berbagai perasaan yang terjadi pada masa di mana ia hidup. Masa di mana kita senang, sedih, membenci, kasih sayang, cinta, keputusasaan dan lain sebagainya. Dari semua masa itu ada satu hal di mana, hal tersebut menjadi sesuatu yang menakutkan bagi kita, yaitu kesulitan. Kata itu adalah permulaan dari berbagai perasaan negatif yang muncul pada diri kita, yang bentuk dan wujudnya berbagai macam menyerupai apa yang kita dapat dan alami pada saat itu. Tapi, apakah kita tahu awalnya kesulitan itu dimulai? Apakah kesulitan di mulai pada saat kita dihadapkan pada suatu pekerjaan atau aktivitas di mana kita tidak mempunyai pengetahuan dan pengalaman pada aktivitas tersebut? Sebagian besar pernyataan di atas pasti bisa di bilang benar, tapi kesulitan yang sesungguhnya dimulai ketika kita membenci diri sendiri untuk kelemahan kita. Kebencian kepada diri sendiri inilah yang merusak kita dari dalam, yang mengalahkan kita sebelum kita mulai bergerak maju untuk “bertarung”.

Yang membuat kita membenci diri sendiri untuk kelemahan kita adalah harapan yang kita patok kepada diri sendiri tidak realistis dan hanya bersifat nafsu. Hawa nafsu memerintahkan kita untuk berangan-angan dan menghayal, tetapi akal menyuruh kita menimbang-nimbang antara kemampuan dan kehidupan nyata seperti apa yang sedang kita jalani. Sungguh benar-benar kasihan orang-orang yang menjadikan kelemahannya sebagai bagian dari cerita hidupnya, yang hanya bisa mengaharapkan keajaiban datang hadir di pundaknya. Hanya bisa berpura-pura menjadi kuat, hebat, dan berkuasa di dalam cangkang khayalannya sendiri.

Yaaaa….kita semua memang manusia yang mempunyai kelemahan pada diri kita masing-masing, tetapi kelemahan itu bukan hal yang mengerikan, kelemahan bukanklah kutukan jika kita mau menerimanya dan menjadikannya motivasi atau kekuatan kita untuk menjadi yang lebih baik dalam Dunia nyata yang keras dan penuh perjuangan ini.

Refernsi :
Maltz, M. M.D., F.I.C.S. (1992). Kekuatan ajaib psikologi citra diri. Jakarta : Mitra Utama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar