Taman Mimpiku

Taman Mimpiku

Minggu, 12 Juni 2011

Sedikit Tentang Salah Satu Tipe Kepribadian

Ke-Pri-Ba-Dian, dari sudut pandang psikologi adalah studi empiris yang sangat kompleks dan terus berkembang. Dalam bahasa Inggris, kepribadian disebut personality. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani “persona”, yang berarti topeng. Istilah ini lalu diadopsi oleh orang-orang Roma dan mendapatkan konotasi baru yaitu: “sebagaimana seseorang Nampak dihadapan orang lain”. Konotasi ini seakan-akan menunjukkan bahwa kepribadian bukanlah diri orang tersebut yang sebenarnya.

Yaa kepribadian seseorang memang sulit untuk dibaca dan diukur, karena salah satu sifat dari kepribadian itu sendiri yang dinamis. Apalagi kalau kita hanya sekilas mengenal dan dekat dengan seseorang, misalnya orang yang terlihat kuat dan tegar dari luar belum tentu dalam dirinya juga seperti itu, malah setelah dekat dan bisa memahaminya bisa jadi dia seorang yang sensitive dan sangat perasa. Dan ada pula yang kebalikannya, orang yang terlihat lemah, layu dan sensitive justru kuat, pantang menyerah dan terkadang licik.

Oleh karena itu sebenarnya yang dapat di ukur adalah bukan dari sisi kepribadian seseorang tapi atribut yang melekat pada seseorang yang berkaitan dengan sifatnya seperti perilaku (rajin, pemalas dll) dan bakat.

Kepribadian seseorang berkembang sebagai respon dari 4 tegangan pokok, yaitu:
1. Proses pertumbuhan fisiologis,
2. Frustasi
3. Konflik
4. Ancaman

Dari ketegangan-ketegangan inilah sesorang terpaksa mempelajari cara-cara baru untuk mereduksi ketegangan tersebut, sehingga terbentuklah suatu perkembangan kepribadian.
Pada kesempatan ini saya ingin berbagi tentang teori kepribadian dari Pendekatan Tipologis dan “Trait”, siapa tau dari ciri-ciri yang nanti ada yang mewakili diri anda, teman, orang tua, saudara atau mungkin juga seseorang yang sedang anda dambakan.

Pendekatan tipologis dan “trait” terhadap kepribadian berusaha memisahkan dan memberikan sifat dasar individu yang mengarahkan perilaku sehingga bisa dikelompokkan dalam klasifikasi tertentu. Pendekatan ini memusatkan diri pada kepribadian umum dan lebih banyak berkaitan dengan pendeskripsian kepribadian dan
meramalkan perilaku, tetapi kurang memperhatikan segi proses serta perkembangannya.

Pendekatan tipologis pernah dilakukan oleh Hipocrates (460-377 SM), seorang Bapak Ilmu Kedokteran pada abad IV SM. Ia mendasarkan tipologinya pada cairan-cairan tubuh yang mempengaruhi tempramen seseorang. Ia membagi kepribadian menjadi 4 tipe menurut nam cairan yang mempengaruhinya, yaitu:
a. melankolik dipengaruhi oleh empedu hitam (murung, depresif)
b. sanguinis dipengaruhi oleh darah (gembira, optimistik)
c. kholerik dipengaruhi oleh empedu kuning (mudah marah)
d. phlegmatik dipengaruhi oleh cairan lendir (tenang, lamban, tidak mudah dirangsang).

Pada tahun 1935 seorang ahli bernama Kretchmer mengemukakan teori kepribadian yang didasarkan pada bentuk tubuh seseorang. Mereka yang berbentuk tubuh gemuk dan bulat digolongkan sebagai Endomorph yaitu orang-orang yang mudah bergaul, periang dan santai. Sedangkan orang-orang yang tinggi kurus digolongkan sebagai Ectomorph yaitu orang yang sangat serius, senang menyendiri, selalu menjaga jarak dengan orang lain dan amat perasa. Kemudian orang-orang yang berbadan tegap dan atletis digolongkan sebagai Mesomorph orang yang agak cerewet, agresif dan sangat aktif secara fisik.

Pendekatan tipologis yang saat ini banyak digunakan adalah tipologi Introvert-Ekstrovert yang mula-mula dikembangkan oleh Carl Guztav Jung (1875-1961) lalu dilanjutkan oleh H.J. Eyesenck. Jung mengatakan bahwa kepribadian manusia dapat dibagi menjadi 2 kecenderungan extrim berdasarkan reaksi individu terhadap pengalamannya.

Pada kutub extrim pertama adalah kecenderungan introversi atau introvert yaitu menarik diri dan tenggelam dalam pengalaman-pengalaman batinnya sendiri. Orang yang mempunyai kecenderungan ini biasanya tertutup, tidak terlalu memperhatikan orang lain dan agak pendiam. Orang introvert juga lebih rentan terkena penyakit jiwa, yang disebabkan orang introvert mempunyai daya tamping/daya tahan terhadap rasa/stress yang sangat besar. Namun jika terlalu lama dipendam bisa menumpuk dan menyebabkan gangguan jiwa.

Kutub extrim yang lain adalah extraversi atau extrovert yaitu membuka diri dalam kontak dengan orang-orang, peristiwa-peristiwa dan benda-benda di sekitarnya. Orang extrovert lebih rentan bunuh diri, karena tipe orang extrovert mudah membaur dan menceritakan semua masalahnya pada orang sekitar, terlebih lagi kelompoknya. Tetapi, jika pada suatu saat orang disekitarnya tidak peduli lagi padanya atau merasa sibuk dengan urusannya masing-masing, maka orang dengan tipe extrovert akan merasa sepi, tidak berharga dan frustasi lalu cenderung lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Nahhh..anda tipe yang mana, diantara beberapa tipe kepribadian tersebut??...memang sepertinya semua tipe kepribadian tersebut ada dalam diri kita, tapi salah satunya pasti ada yang dominan dalam perilaku kita tergantung dari diri anda sendiri dalam memaknai hidup.

"Elemen terpenting pada diri kita bukan pada otak. Namun, pada apa yang menuntun otak kita, seperti : kepribadian, hati, kebaikan, dan ide-ide progresif." Fyodor Dostoyevsky (1821-1881)

Referensi
Dwi, R., & Prabowo, H. (1998). Psikologi umum 2, seri diktat kuliah. Jakarta : Universitas Gunadarma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar